puisi ini aku kutip dari film "Ada Apa Dengan Cinta?" tentu kalian nggak asing lagi kan dengan film ini...
aku suka banget dengan puisi yang dibuat Rangga ini, check this out guys...
Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar! Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri
Pecahkan saja gelasnya biar gaduh!
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar tergerak?
Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?
baguskan? kalian cari sendiri ya maknanya...
Terkadang kata-kata tak mau pergi dari tempat persemayamannya. Ia tetap memilih duduk termenung menunggu yang lain memuntahkannya terlebih dulu. Tapi aku punya goresan tinta emas dalam dunia tak kasat mata, aku bisa melukiskan indahnya warna pada orang yang tak dapat menganalinya, karena ini dunia keduaku, tempatku hidup dan tak terganggu, cuz my blog is my world...
Senin, 11 Juni 2012
Jumat, 18 Mei 2012
Tugas TI Posting Artikel Sastra Indonesia
Nama : Desy Ratna Christiyani
NIM : 13010111130041
Jurusan : Sastra Indonesia
Semester : 2 (dua)
NIM : 13010111130041
Jurusan : Sastra Indonesia
Semester : 2 (dua)
Periode Angkatan 45 sampai sekarang
Angkatan 45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
• Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
• Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
• Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
• Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
• Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
• Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
• Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
• Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
• Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
• Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
• Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
• Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
• Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
• Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
• Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
• Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
• W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
• Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
• Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
• Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
• Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
• Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
• Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
• Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
• Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
• Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
• Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
• Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
• Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
• Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
• Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
• Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
• Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
• Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
• Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
• Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
• M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
• Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
• Chairul Harun
o Warisan (1979)
• Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
• M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
• Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
• Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
• Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
• Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
• Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus
Angkatan 1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
• Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
• Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
• Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
• Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
• Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
• Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
• Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
• Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
• Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
• Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
• Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
• Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
• Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
o Ranah 3 Warna (2011)
• Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
• Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
• Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
• Dahta Gautama
o Ular Kuning (2011)
o Silsilah Keluarga Kutukan (2012)
• Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
• Herlinatiens
o Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
o Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
o Jilbab Britney Spears (2004)
o Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
o Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
o Rebonding (2005)
o Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
o Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
o Sebuah Cinta yang Menangis (2006)
• Raudal Tanjung Banua
o Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
o Ziarah bagi yang Hidup (2004)
o Parang Tak Berulu (2005)
o Gugusan Mata Ibu (2005)
• Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
• Tosa
o Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
o Melan Conis (2009)
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
• Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
• Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
• Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
• Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
• Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
• Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
• Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
• Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
• Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
• Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
• Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
• Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
• Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
• Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
• Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
• Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
• W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
• Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
• Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
• Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
• Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
• Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
• Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
• Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
• Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
• Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
• Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
• Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
• Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
• Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
• Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
• Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
• Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
• Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
• Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
• Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
• M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
• Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
• Chairul Harun
o Warisan (1979)
• Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
• M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
• Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
• Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
• Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
• Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
• Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus
Angkatan 1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
• Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
• Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
• Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
• Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
• Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
• Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
• Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
• Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
• Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
• Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
• Afrizal Malna
o Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
o Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
o Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
o Dinamika Budaya dan Politik (1991)
o Arsitektur Hujan (1995)
o Pistol Perdamaian (1996)
o Kalung dari Teman (1998)
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
• Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
• Ahmad Fuadi
o Negeri 5 Menara (2009)
o Ranah 3 Warna (2011)
• Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
o Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
• Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
• Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
• Dahta Gautama
o Ular Kuning (2011)
o Silsilah Keluarga Kutukan (2012)
• Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
• Herlinatiens
o Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
o Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
o Jilbab Britney Spears (2004)
o Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
o Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
o Rebonding (2005)
o Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
o Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
o Sebuah Cinta yang Menangis (2006)
• Raudal Tanjung Banua
o Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
o Ziarah bagi yang Hidup (2004)
o Parang Tak Berulu (2005)
o Gugusan Mata Ibu (2005)
• Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
• Tosa
o Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
o Melan Conis (2009)
Periode Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
• Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
• Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
• Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
• Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
• Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
• Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
• Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
• J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
• Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
• Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
• Karim Halim
o Palawija (1944)
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
• Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
• Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
• Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
• Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
• Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
• Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
• Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
• J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
• Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
• Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
• Karim Halim
o Palawija (1944)
Periode Sastra Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
• Merari Siregar
• Azab dan Sengsara (1920)
• Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
• Cinta dan Hawa Nafsu
• Marah Roesli
• Siti Nurbaya (1922)
• La Hami (1924)
• Anak dan Kemenakan (1956)
• Muhammad Yamin
• Tanah Air (1922)
• Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
• Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
• Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
• Nur Sutan Iskandar
• Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
• Cinta yang Membawa Maut (1926)
• Salah Pilih (1928)
• Karena Mentua (1932)
• Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
• Hulubalang Raja (1934)
• Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
• Tulis Sutan Sati
• Tak Disangka (1923)
• Sengsara Membawa Nikmat (1928)
• Tak Membalas Guna (1932)
• Memutuskan Pertalian (1932)
• Djamaluddin Adinegoro
• Darah Muda (1927)
• Asmara Jaya (1928)
• Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
• Pertemuan (1927)
• Abdul Muis
• Salah Asuhan (1928)
• Pertemuan Djodoh (1933)
• Aman Datuk Madjoindo
• Menebus Dosa (1932)
• Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
• Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-teman inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
• Merari Siregar
• Azab dan Sengsara (1920)
• Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
• Cinta dan Hawa Nafsu
• Marah Roesli
• Siti Nurbaya (1922)
• La Hami (1924)
• Anak dan Kemenakan (1956)
• Muhammad Yamin
• Tanah Air (1922)
• Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
• Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
• Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
• Nur Sutan Iskandar
• Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
• Cinta yang Membawa Maut (1926)
• Salah Pilih (1928)
• Karena Mentua (1932)
• Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
• Hulubalang Raja (1934)
• Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
• Tulis Sutan Sati
• Tak Disangka (1923)
• Sengsara Membawa Nikmat (1928)
• Tak Membalas Guna (1932)
• Memutuskan Pertalian (1932)
• Djamaluddin Adinegoro
• Darah Muda (1927)
• Asmara Jaya (1928)
• Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
• Pertemuan (1927)
• Abdul Muis
• Salah Asuhan (1928)
• Pertemuan Djodoh (1933)
• Aman Datuk Madjoindo
• Menebus Dosa (1932)
• Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
• Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
Periode Sastra Pujangga Lama dab Angkatan Sastra Melayu
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
• Sejarah Melayu (Malay Annals)
Hikayat
• Hikayat Abdullah
• Hikayat Aceh
• Hikayat Amir Hamzah
• Hikayat Andaken Penurat
• Hikayat Bayan Budiman
• Hikayat Djahidin
• Hikayat Hang Tuah
• Hikayat Iskandar Zulkarnain
• Hikayat Kadirun • Hikayat Kalila dan Damina
• Hikayat Masydulhak
• Hikayat Pandawa Jaya
• Hikayat Pandja Tanderan
• Hikayat Putri Djohar Manikam
• Hikayat Sri Rama
• Hikayat Tjendera Hasan
• Tsahibul Hikayat
Syair
• Syair Bidasari
• Syair Ken Tambuhan
• Syair Raja Mambang Jauhari
• Syair Raja Siak
Kitab agama
• Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
• Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
• Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
• Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
• Robinson Crusoe (terjemahan)
• Lawan-lawan Merah
• Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
• Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
• Kapten Flamberger (terjemahan)
• Rocambole (terjemahan)
• Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
• Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
• Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
• Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
• Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
• Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
• Cerita Nyi Paina
• Cerita Nyai Sarikem
• Cerita Nyonya Kong Hong Nio • Nona Leonie
• Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
• Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
• Cerita Rossina
• Nyai Isah oleh F. Wiggers
• Drama Raden Bei Surioretno
• Syair Java Bank Dirampok
• Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
• Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
• Tambahsia
• Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
• Nyai Permana
• Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
• dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
• Sejarah Melayu (Malay Annals)
Hikayat
• Hikayat Abdullah
• Hikayat Aceh
• Hikayat Amir Hamzah
• Hikayat Andaken Penurat
• Hikayat Bayan Budiman
• Hikayat Djahidin
• Hikayat Hang Tuah
• Hikayat Iskandar Zulkarnain
• Hikayat Kadirun • Hikayat Kalila dan Damina
• Hikayat Masydulhak
• Hikayat Pandawa Jaya
• Hikayat Pandja Tanderan
• Hikayat Putri Djohar Manikam
• Hikayat Sri Rama
• Hikayat Tjendera Hasan
• Tsahibul Hikayat
Syair
• Syair Bidasari
• Syair Ken Tambuhan
• Syair Raja Mambang Jauhari
• Syair Raja Siak
Kitab agama
• Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
• Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
• Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
• Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
• Robinson Crusoe (terjemahan)
• Lawan-lawan Merah
• Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
• Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
• Kapten Flamberger (terjemahan)
• Rocambole (terjemahan)
• Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
• Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
• Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
• Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
• Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
• Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
• Cerita Nyi Paina
• Cerita Nyai Sarikem
• Cerita Nyonya Kong Hong Nio • Nona Leonie
• Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
• Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
• Cerita Rossina
• Nyai Isah oleh F. Wiggers
• Drama Raden Bei Surioretno
• Syair Java Bank Dirampok
• Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
• Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
• Tambahsia
• Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
• Nyai Permana
• Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
• dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Apa Itu Sastra Indonesia?
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Periodisasi Sastra Indonesia
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
• lisan
• tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
• Angkatan Pujangga Lama
• Angkatan Sastra Melayu Lama
• Angkatan Balai Pustaka
• Angkatan Pujangga Baru
• Angkatan 1945
• Angkatan 1950 - 1960-an
• Angkatan 1966 - 1970-an
• Angkatan 1980 - 1990-an
• Angkatan Reformasi
• Angkatan 2000-an
Rabu, 21 Maret 2012
Lengkap, Komplit
orang bilang sahabat dan teman itu bisa menghilangkan segalah gundah yang kita alami. tapi aku rasa gag. mereka (entah kenapa aku selalu dapet yang kayak gini) terlalu autis sama urusan msaing-masing. nggak perduli sama orang-orang sekitar.
Kamis, 23 Februari 2012
Aku Ragu
Percuma saja aku menjerit di telengamu
sedetikpun kamu tetap tak pernah mendengarkanku,
sekeras apapun aku melolong untuk kau dengarkan
percuma saja aku menangis tepat di depan bola matamu,
karena kamu menutup mata, tak perduli padaku
sekeras apapun aku meronta untuk bisa kamu lihat
percuma saja aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu
karena kamu tak pernah mengharapkan aku
karena aku tak pernah kau anggap penting bagi duniamu
nanti bila aku pergi meninggalkan dunia,
apa kamu akan bersedih untukku?
aku ragu, karena air matamu terlalu mahal untuk orang sepertiku
sedetikpun kamu tetap tak pernah mendengarkanku,
sekeras apapun aku melolong untuk kau dengarkan
percuma saja aku menangis tepat di depan bola matamu,
karena kamu menutup mata, tak perduli padaku
sekeras apapun aku meronta untuk bisa kamu lihat
percuma saja aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu
karena kamu tak pernah mengharapkan aku
karena aku tak pernah kau anggap penting bagi duniamu
nanti bila aku pergi meninggalkan dunia,
apa kamu akan bersedih untukku?
aku ragu, karena air matamu terlalu mahal untuk orang sepertiku
Selasa, 24 Januari 2012
Juga
Ketika dunia juga ikut menangis
Memandang kamu yang terlalu anggun dalam balut awan mendung
Aku mencoba mengeluarkanmu, juga aku
Karena kita terlalu hanyut dalam balutan lampu yang berkedip lucu
Kemari, genggam jemari
Jadikanlah satu dalam balutan jemari kekalutan sunyi
Memandang kamu yang terlalu anggun dalam balut awan mendung
Aku mencoba mengeluarkanmu, juga aku
Karena kita terlalu hanyut dalam balutan lampu yang berkedip lucu
Kemari, genggam jemari
Jadikanlah satu dalam balutan jemari kekalutan sunyi
Without You . . . (dibuat u/ LMCR 2011 walo gag menang)
AKU - TATA
Hujan mulai turun membasahi taman tempatku berada sekarang. Aku memandangi Indra dengan lembut. Berusaha menebak apa kata yang akan keluar dari mulutnya. Tingkahnya yang santai dan acuh membuatku takut. Bukan takut karenanya, tapi aku takut dengan apa yang akan disampaikannya. Waktu seolah berhenti berputar ketika ia mulai membuka suara.
“Sory, Ta. Aku lebih mencintainya dari pada kamu.” Kata Indra tanpa beban. Ia mngatakan maaf padaku. Tapi aku yakin kata itu hanya keluar dari mulutnya, bukan hatinya.
Jantungku seperti berhenti berdetak saat kata-kata itu keluar. Dadaku terasa sesak dan sulit untukku mengambil nafas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa aku kendalikan. Tubuhku lemas, aku terkulai lemah karena tidak mampu menopang semua perasaanku saat ini.
Indra berjalan menjauh dariku. Aku ingin mencegahnya pergi, tapi tubuhku tidak mau merespon. Aku hanya bisa melihat punggunggnya menjauhiku. Dari kejauhan, dengan samar aku bisa melihat siluet tubuh Indra yang memeluk seorang wanita. Aku tahu kalau suatu saat nanti ini akan terjadi padaku. Tapi tetap saja hati ini terasa hancur.
Aku menangis histeris dan berteriak-teriak seperti orang gila. Aku sama sekali tidak perduli dengan tatapan orang yang melewatiku. Aku ingin melepaskan semua beban dan rasa sakit ini. Aku peluk lututku sambil menggigil kedinginan. Aku tahu, tidak seharusnya aku menangisi Indra. Dia sama sekali tidak pantas mendapat air mataku. Aku menjerit lebih keras lagi. Berusaha melupakan semua memoriku bersama Indra.
Tiba-tiba air hujan tidak lagi menetes di tubuhku. Aku medongak dan mendapati Reza memayungiku. Aku heran, kenapa musuh bebuyutanku itu bisa berada disini. Ia berdecak dan bergumam tidak jelas. Lalu ia mengulurkan tangan padaku. Ku tatap matanya, aku kan harus waspada. Dia masih tetap musuhku.
“Hei! Mau sampai kapan loe duduk disitu?.” Seru Reza.
Aku raih tangannya. Ia memasangkan jaketnya padaku. Dia juga menghapus air mataku. Reza menggeggam tanganku dan membawaku pergi dari tempat menyebalkan ini.
Aku menundukkan kepala selama perjalanan. Aku malu memperlihatkan mataku yang bengkak pada Reza. Selain itu, rasa maluku yang tadi hilang sudah kembali lagi. Aku mulai risi pada orang-orang yang dari tadi mengamatiku. Aku tidak heran kenapa dari tadi kami menjadi pusat perhatian. Selain karena aku yang kucel dan seperti orang gila. Reza, orang yang menggandengku saat ini termasuk dalam kategori laki-laki impian. Tentu saja karena tubuhnya yang tinggi berotot, wajahnya yang tampan, kulitnya yang coklat karena terlalu sering bermain bola, juga karena prestasi akademisnya yang oke. Mungkin kalau bukan karena sikapnya yang kasar dan dia bukan senior di kampusku, aku juga akan menjadi pengagumnya sama seperti Rea sahabatku yang sangat memujanya. Tiba-tiba Reza berhenti berjalan, membuatku menabrak punggungnya yang bidang. Lalu ia berbalik memandangiku.
“Loe! Kenapa nunduk terus? Mau cari uang recehan jatuh.” Seru Reza keras. Ajaib, suara Reza tidak kalah dengan derasnya air hujan. Tidak heran kalau ia bisa menjadi bos di kampus. Aku angkat kepalaku dengan malas.
“Apa?.” Jawabku lemas.
“Gitu cara loe ngomong sama bos loe. Inget, loe masih punya hutang sama gue tiga juta.” Kata Reza.
Tuh kan, apa aku bilang. Mana mungkin dia bersikap lembut padaku. Ini kan sudah kebiasaannya membentakku setiap waktu. Aku malas meladeni Reza sekarang. Toh semua yang ia katakan benar. Reza memang bosku dan aku juga berhutng tiga juta padanya. Karena tanpa sengaja aku menabrak mobil barunya. Dan untuk membayarnya aku harus menjadi asisten pribadinya selama satu bulan.
“Mau kemana?.” Katanya lembut ketika kami sampai di depan mobilnya. Aku sempat kaget dengan nada suaranya. Baru kali ini dia berkata lembut padaku. Ajaib sekali dia hari ini, apa mungkin dia salah minum obat ya?
“Gue mau pulang.” Jawabku jujur. Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, ia sudah mulai menjalankan mobilnya. Memang dia tahu alamat rumahku?. Tanya ku bingung dalam hati. Tapi tidak ada lima menit, aku sudah berada di depan rumah. Aku menatapnya heran, mencoba meminta penjelasan padanya. Tapi dia malah membuang mukanya dan menyuruhku masuk ke rumah.
Tiba-tiba Ibuku keluar dari balik pintu. Dengan raut mukak marah Ibu memandangiku dari atas sampai bawah. Nyaliku sudah mengecil saat ibuku menuangkan kemarahannya.
“Dasar anak nggak berguna! Apa yang kamu lakukan di luar sana, heh! Aku sudah bekerja keras untuk menghidupi mu. Kamu malah keluyuran nggak jelas seperti ayah mu.” Serunya lantang. Yah, aku memang sudah terbiasa dimarahi olehnya. Aku tahu Ibu tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya stres menghadapi kelakuan ayahku yang seenaknya sendiri.
“Maaf, Bu. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” Kataku takut. Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi kemarahannya.
“Pergi sana! Keluar dari rumahku. Aku nggak mau melihat muka mu lagi!.” Kata Ibu keras. Lalu ia melempar tas kearahku. Hal ini sering terjadi padaku. Aku sudah biasa terusir dan kembali lagi besok. Setidaknya seminggu dua kali aku melakukan rutinitas ini. Tapi aku sempat berharap kalau hal ini tidak terjadi sekarang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Karena aku takut penyakit darah tinggi Ibuku kambuh. Aku bergegas memungut tas dan pergi dari rumah. Karena hal ini sering terjadi, aku tahu harus pergi kemana. Tubuhku mulai menggigil. Seharusnnya tadi aku berganti baju dulu. Aku melihat mobil Reza dari kejauhan. Ternyata dia melihat semua kejadian yang aku alami. Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Gue nggak nyangka nyokap loe sampai segitunya.” Serunya heran. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat seorang anak diusir oleh ibunya sendiri.
“Nggak. Nyokap gue baik kok. Gue rela melakukan apapun yang dia mau. Tapi selama ini gue cuma buat dia susah. Makanya loe jangan bentak-bentak gue, gue udah kenyang sama yang begituan di rumah.” Candaku. Aku memang rela melakukan apapun untuk Ibuku.
“Makanya loe jangan nyebelin. Loe mau kemana?.” Balasnya jutek. Tapi aku bisa melihat senyumnya.
“Anterin gue ke rumah Rea ya, Pak Supir.” Candaku lagi. Hahaha, dia hanya bisa tersenyum padaku.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rea. Rumah Rea hanya berjarak beberapa blok dari rumahku. Aku sudah hampir turun, ketika aku melihat motor Indra berhenti di depan rumah Rea. Reza menarikku masuk ke dalam mobilnya. Aku mematung ketika Indra mencium Rea. Jadi wanita yang aku lihat tadi adalah sahabatku sendiri. Hatiku hancur lebur. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri. Air mataku mengalir lagi. Aku memandang Reza, memintanya untuk segera membawaku pergi dari sini. Dan tiba-tiba darah keluar dari hidungku dan kegelapan mulai menguasaiku.
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Kepalaku terasa pening dan berat. Ku rasakan selang infus di tanganku. Aku benci rumah sakit. Aku melihat Reza berdiri di sampingku, raut wajahnya menggambarkan kalau ia sangat khawatir. Seorang dokter menghampiri kami. Ia terlihat tegang melihat catatan kesehatanku. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Seumur hidupku, aku tidak pernah sakit yang serius atau bahkan pingsan seperti ini.
“Dokter, sebenarnya saya sakit apa?.” Tanyaku. Ada rasa takut di hatiku.
“Saya belum tahu pasti. Kamu harus melakukan beberapa pemeriksaan.” Kata dokter padaku.
“Kalau begitu lakukan pemeriksaan lengkap sekarang, biar saya yang menanggung semua biayanya.” Kata Reza di sampingku, sepertinya dia lebih penasaran dari pada aku.
Ternyata pemeriksaan itu tidak terlalu memusingkan seperti perkiraanku. Dalam dua jam aku bisa melihat hasil laboratoriumnya. Aku hanya harus merelakan darahku diambil dengan jarum yang mengerikan itu. Reza menemaniku menunggu hasil testnya. Setelah menunggu lumayan lama, dokter memanggil kami ke ruangannya. Reza membantuku berjalan, ia dengan senang hati membawakan kantung infusku.
“Apa hasilnya, Dok? Tata sehat kan?.” Tanya Reza ketika kami sampai di ruangan dokter.
“Maaf, sepertinya tidak. Menurut hasil laboratorium, Tata mengidap kangker sumsum tulang belakang stadium akhir.” Kata dokter itu. Aku melihat raut wajahnya, bukan wajah seseorang yang sedang berbohong atau bercanda. Aku melihat Reza, dia juga sama kagetnya denganku.
“Kangker sumsum tulang belakang stadium akhir?.” Kataku memastikan. Mungkin saja aku salah mendengar kan.
“Benar.” Jawab dokter itu mantap. Tidak bisakah dia berbohong sedikit, dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Reza memandangiku dengan wajah khawatir. Aku mencoba mengolah semua kejadian hari ini. Di putuskan oleh pacar, di usir oleh Ibuku, dan di khianati oleh sahabatku sendiri. Sekarang harus bertambah dengan penyakit kangker. Apa yang sudah ku lakukan sampai tuhan menghukumku seperti ini. Aku mencoba menerima kenyataan, berusaha tegar agar tidak menangis.
“Berapa sisa umurku?.” Tanyaku pada dokter. Ku rasakan Reza menegang di sampingku.
“TATA!.” Bentak Reza. Sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaanku.
“Apa? Bukannya ini pertanyaan yang lumrah. Gue mesti tahu berapa sisa umur gue.” Kataku berusaha tegar, padahal dalam hati aku ingin bersandar dan menangis di bahunya.
“Saya bukan tuhan yang berhak memfonis umur manusia. Tapi kalau melihat keadaan mu saat ini, saya hanya bisa memperkirakan sekitar tiga atau empat bulan lagi.”
Reza terlihat tidak menyukai jawaban dokter. Ia menyeretku keluar. Membawaku ke taman rumah sakit yang gelap. Tiba-tiba ia memelukku erat.
“Nangis aja kalau loe mau nangis. Mumpung di sini nggak ada orang.” Katanya. Aku menangis di pelukannya. Menumpahkan semua yang terjadi hari ini di bahunya. Aku merasa putus asa, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Jangan beri tahu siapapun tentang penyakit gue. Termasuk ke nyokap gue.” Pintaku. Reza sempat terkejutdan menolak permintaanku. Tapi akhirnya setelah aku memohon ia menyetujuinya.
Setelah itu hari-hariku berubah. Aku masih tetap keluar dari rumah, sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah setiap aku pulang kuliah, Reza selalu menemaniku menjalani perwatan kangker. Dia juga yang menebus obat-obat mahal itu. Ibuku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku juga mengambil keputusan untuk tidak membenci Rea. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaikku.
Seperti saat ini, aku dan Reza akan pergi ke rumah sakit. Namun mataku menangkap sesatu. Aku melihat Rea menangis di bawah pohon. Aku meminta Reza menungguku di mobilnya sebentar, sementara aku menghampiri Rea.
“Ada apa, Re?.” Tanyaku perhatian. Rea terkejut melihatku.
“Ngapain loe di sini?.” Balasnya sinis. Aku mencoba bersabar, seharusnya yang marah kan aku.
“Gue penasaran aja, kenapa loe nangis. Jangan bilang kalau itu karena Indra.” Kataku asal. Aku sempat khawatir melihat ekspresi wajah Rea yang seperti ingin memakanku. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ia malah memelukku sambil menangis.
“Maafin gue, Ta.” Serunya sambil menangis. Aku tidak mampu menahan air mata lagi. Alhasil aku juga ikut menangis.
“Gue maafin loe udah lama, Re. Loe itu sahabat terbaik gue. sekarang loe cerita, kenapa loe nangis di sini?.” Selidikku. Rea terlihat takut menceritakannya. Tapi setelah aku mendesaknya, akhirnya Rea mau menceritakan semuanya.
“Gue hamil, Ta. Gue hamil, tapi Indra nggak mau tanggung jawab.” Jelasnya sambil menangis. Aku seperti tersambar petir di siang hari. Tidak ku sangka kalau Rea menjadi korban yang lebih parah dari pada aku. Tanpa berfikir panjang aku menarik Rea untuk menemui Indra. Sangat tidak adil kalau Rea hanya menanggungnya sendiri. Aku dan Rea menuju tempat Indra biasa menghabiskan waktu istirahat siang. Aku melihatnya duduk dengan santai dan menggoda mahasiswi baru yang lewat.
“Loe ikut gue.” Perintahku padanya. Indra hanya tersenyum acuh. Emosiku yang tinggi dan akal sehatku yang mulai tidak bekerja secara normal membuatku menarik Indra ke lorong kampus yang sepi. Rea yang mengikuti di belakang hanya diam seribu bahasa.
“Loe mesti tanggung jawab. Rea hamil, Dra.” Kataku lembut. Aku tahu kalau menghadapi Indra dengan amarah, tidak akan mempan.
“Tanggung jawab? Mungkin aja itu bukan anak gue. Loe kan nggak tahu apa kelakuan dia yang sebenarnya.” Jawabnya. Amarahku memuncak lagi. Kutampar pipi kirinya dengan keras.
“Harusnya gue lakuin ini dari dulu. Dan satu lagi.” Lalu aku menampar pipi kanannya.
“Ini buat loe yang udah kurang ajar sama Rea.” Lanjutku lagi. Ku lihat raut wajahnya yang berubah merah karena marah. Ia mengayunkan tangan untuk memukulku. Tapi Reza berhasil mencekalnya. Wow, Reza selalu bersikap seperti supermanku akhir-akir ini.
“Cowok yang berani mukul cewek itu, BANCI!.” Kata Reza. Lalu tanpa bisa aku sadari, mereka menjelma sebagai Muhamad Ali dan Cris Jhon. Aku coba memisahkan mereka namun karena tubuhku yang mungil, aku tidak bisa menyentuh mereka. Salah-salah malah aku yang terkena tinju dari mereka.
“CUKUP!.” Teriakku lantang. Mereka berdua berhenti seketika dan menoleh sesaat padaku. Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu mereka menuju ronde kedua. Ku rasakan darah mengalir dari hidungku. Rea yang sadar dengan keadaanku langsung berteriak. Seketika itu juga aku melihat Reza melepaskan cengkraman tangannya dari Indra dan menghampiriku dengan wajah khawatir.
“Ta, loe nggak papa? Loe pasti nggak minum obat.” Kata Reza khawatir. Aku menggelengkan kepala tanda bahwa yang dikatakan Reza tidak benar. Aku selalu meminum obatku tepat waktu.
Tiba-tiba Indra mengarahkan tongkat baseball padaku. Dan detik berikutnya aku melihat Reza berada di depanku. Setelah itu aku melihat bercak darah di lantai, tapi bukan darahku. Bukan karena mimisan yang sedang aku alami. Aku menepuk punggung Reza pelan, tapi tubuh Reza limbung ke arahku. Dan aku melihat wajah Reza yang berumuran darah.
***
“Reza mengalami kebutaan permanen.” Kata dokter padaku setelah beberapa hari kami menginap di rumah sakit. Aku memandang wajah Reza yang hampir seluruhnya tertutupi oleh perban. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya.
“Satu-satunya cara adalah dengan donor kornea. Saya sudah mendaftarkan nak Reza ke bank kornea. Jadi sabar saja menunggu pendonor yang cocok dengan kamu.” Lanjut dokter. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Donor kornea pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku memandangi Reza lagi, dia masih saja tanpa ekspresi. Aku mendekati Reza, menggenggam tangannya.
“Za, gue…” Kata-kataku tercekat, keadaannya yang seperti ini kan karena aku. Aku merasa sangat bersalah dengannya. Tangan Reza mulai meraba mencari wajahku. Tubuhku terasa tersengat listrik 1000 volt ketika jemarinya menyentuh pipiku. Oh tuhan, apa benar aku jatuh cinta pada Reza. Jantungku berdegup lebih cepat saat Reza mulai berbicara.
“It’s Oke. No problem. Gue nggak papa, Ta.” Kata Reza sambil tersenyum. Ah, rasanya aku mau pingsan melihat senumannya itu. Tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah lagi. Untung saja Reza tidak bisa melihatnya. Dan detik berikutnya, aku sudah dikuasai oleh kegelapan.
Saat aku sadar dari pingsan, ku lihat Reza duduk dengan kursi roda di sampingku. Aku melihat keadaan sekitar. Rea dan Ibuku berdiri di samping dokter sambil menangis. Aku heran, kenapa Ibuku mengetahui kalau aku ada di sini. Dokter menyuruh Reza dan Rea pergi. Reza bersikeras ingin selalu ada di sampingku. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi belum sempat dokter memarahinya, Rea yang tanggap langsung mendorong kursi roda Reza keluar dari kamarku. Sekarang hanya tersisa aku dan Ibuku, dokter memulai pembicaraannya.
“Kangker mu sudah menyebar. Kemo terapi dan obat tidak akan bisa menghambatnya lagi. satu-satunya solusi adalah dengan cangkok sumsum tulang belakang. Aku sudah mengecek sumsum tulang Ibu mu, dan hasilnya cocok. Sekarang kami hanya menunggu keadaan mu stabil untuk dapat dioperasi.” Jelas dokter panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi sebelumnya saya punya satu permintaan.” Kataku. Ibuku dan dokter terkejut mendengarnya. Namun menit berikutnya mereka bisa mengerti apa yang aku rasakan.
“Yang pertama, katakan pada Reza kalau aku akan berobat ke Swis dan akan kembali beberapa bulan lagi. Yang kedua, jika nanti operasiku gagal. Aku ingin menyumbangkan korneaku pada Reza, dan organ tubuhku yang masih berfungsi dengan baik kepada orang yang membutuhkannya.” Pintaku. Ibu berkata kalau aku tidak boleh pesimis. Tapi aku sudah menetapkan hati, aku tidak mau melihat orang menderita penyakit sepertiku. Setidaknya aku bisa berguna untuk orang lain setelah aku meninggal. Dan mereka menyetujuinya.
***
AKU - REZA
“Za, besok gue berangkat ke Swis.” Kata Tata padaku. Andai saja aku bisa melihat wajahnya saat ini, tapi itu tidak mungkin. Ku rasakan air matanya menetes di tanganku. Ku genggam tangannya. Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi untuk sekarang ini aku tidak pantas. Dengan keadaanku yang tidak dapat melihat indah wajahnya, dan dia yang sedang berjuang dengan penyakitnya membuatku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku. Tiba-tiba kurasakan Tata memelukku sambil menangis. Aku tidak berani membalas pelukkannya.
“Ada apa, Ta? Loe kenapa?.” Tanyaku.
“Tunggu gue ya. Nggak lama kok, jadi loe tunggu gue.” Jawab Tata dambil mempererat pelukkannya. Karena sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi, akhirnya aku membalas pelukkannya.
“Gue cinta sama loe, Za. Gue cinta sama loe. Jadi tunggu gue.” Kata Tata tiba-tiba. Aku terkejut mendengar perkataannya itu. Aku memeluknya rebih erat lagi. Darahku berdesir, jantungku begejola riang. Dia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Gue juga, Ta. Gue cinta sama loe sejak pertama kali kita ketemu.” Jawabku senang. Kalau saja aku bisa melihat, aku pastikan kalau dia pasti tersenyum sekarang. Membayangkan senyumnya yang seperti malaikat membuatku seperti tersengat listrik. Dan waktu berikutnya, aku dan Tata hanya diam seribu bahasa. Hanyut dengan perasaan cinta kita, dan ku rasakan ia mulai tertidur di pelukanku.
***
Hari ini tepat satu bulan Tata pergi ke Swis. Aku duduk di bawah pohon cemara di kebun rumahku. Aku masih belum mendapatkan pendonor untuk korneaku. Jadi sekarang aku harus berusaha menghafal lingkungan sekitarku dan belajar menggunakan huruf broiles. Ku dengar Indra sudah mendekam di penjara setelah beberapa minggu menjadi buronan. Ringtone handphoneku berbunyi, dan suara dokter Herman langsung menyambutku.
“Saya ada berita bagus untuk kamu. Kamu sudah dapat pendonor yang cocok.”
Aku melompat kegirangan. Bersorak riang seperti orang gila. Aku ingin memberitahu hal paling membahagiakan ini pada pacarku tersayang, Tata. Aku hubungi nomor handphonenya di Swis, namun tidak ada jawaban. Yah, mungkin dia masih menjalani perawata pasca operasi. Aku menunggu hari operasiku dengan gembira. Aku sudah mengirimkan email pada Tata kapan perbanku akan dibuka. Aku ingin orang pertama yang aku lihat adalah dia.
***
Hari ini adalah hari perban mataku di buka. Orang tuaku yang tinggal di London memberikan kejutan dengan datang ke Indonesia untuk melihat momen ini. Rea, sahabat Tata juga ada disini. Aku kecewa mendengar kabar kalau Tata tidak bisa datang kemari. Tapi aku maklum, dia harus sehat agar kami bisa selalu bersama. Nanti aku saja yang memberinya kejutan. Dokter mulai melepas perban di mataku. Ia menyuruhku mengerjapkan mata perlahan. Setelah itu aku dapat melihat cahaya pertama di hidupku.
Ayah dan Bundaku tersenyum senang di sampingku. Ku lihat Rea juga tertawa senang, namun menit berikutnya ia menangis. Aku bingung melihat reaksinya, ini membuatku penasaran.
“Gue mau nelpon Tata.” Kataku senang. Dia harus mendengar dari sana betapa bahagianya aku sekarang.
“Gue mau ngasih ini, Tata nitip ini sebelum berangkat. Dia tahu kalau hari ini akan tiba.” Kata Rea sambil menangis. Aku membuka surat itu.
“Untuk Rezaku. Maaf aku tidak bisa berada di samping mu saat ini. tapi aku akan selalu berada di sisi mu. Selalu kamu lihat. Karena dunia yang kamu lihat sama dengan yang aku lihat. Cintaku untukmu selalu.”
Aku tersenyum membaca surat Tata. Aku tahu pasti dia sedang bersembunyi untuk memberi kejutan padaku.
“Mana dia?.” Tanyaku penasaran.
“Tata udah meninggal, Za. Operasinya gagal. Dia yang jadi pendonor buat loe.” Kata Rea. Ku rasakan seluruh tubuhku mati rasa. Dan detik berikutnya aku sudah menangis histeris.
***
Aku bersimpuh di atas pusaran Tata. Aku membawakan dia seikat bunga lili kesukaannya. Aku tersenyum dan meninggalkan sepucuk surat untuknya.
“Untuk Tataku. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan. Tanpa cintamu aku tidak akan mampu bertahan. Aku akan hidup dan akan terus mencintaimu. Membantu melihat dunia lewat mata yang kamu berikan. Walau tanpa kamu ada di sampingku.”
Hujan mulai turun membasahi taman tempatku berada sekarang. Aku memandangi Indra dengan lembut. Berusaha menebak apa kata yang akan keluar dari mulutnya. Tingkahnya yang santai dan acuh membuatku takut. Bukan takut karenanya, tapi aku takut dengan apa yang akan disampaikannya. Waktu seolah berhenti berputar ketika ia mulai membuka suara.
“Sory, Ta. Aku lebih mencintainya dari pada kamu.” Kata Indra tanpa beban. Ia mngatakan maaf padaku. Tapi aku yakin kata itu hanya keluar dari mulutnya, bukan hatinya.
Jantungku seperti berhenti berdetak saat kata-kata itu keluar. Dadaku terasa sesak dan sulit untukku mengambil nafas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa aku kendalikan. Tubuhku lemas, aku terkulai lemah karena tidak mampu menopang semua perasaanku saat ini.
Indra berjalan menjauh dariku. Aku ingin mencegahnya pergi, tapi tubuhku tidak mau merespon. Aku hanya bisa melihat punggunggnya menjauhiku. Dari kejauhan, dengan samar aku bisa melihat siluet tubuh Indra yang memeluk seorang wanita. Aku tahu kalau suatu saat nanti ini akan terjadi padaku. Tapi tetap saja hati ini terasa hancur.
Aku menangis histeris dan berteriak-teriak seperti orang gila. Aku sama sekali tidak perduli dengan tatapan orang yang melewatiku. Aku ingin melepaskan semua beban dan rasa sakit ini. Aku peluk lututku sambil menggigil kedinginan. Aku tahu, tidak seharusnya aku menangisi Indra. Dia sama sekali tidak pantas mendapat air mataku. Aku menjerit lebih keras lagi. Berusaha melupakan semua memoriku bersama Indra.
Tiba-tiba air hujan tidak lagi menetes di tubuhku. Aku medongak dan mendapati Reza memayungiku. Aku heran, kenapa musuh bebuyutanku itu bisa berada disini. Ia berdecak dan bergumam tidak jelas. Lalu ia mengulurkan tangan padaku. Ku tatap matanya, aku kan harus waspada. Dia masih tetap musuhku.
“Hei! Mau sampai kapan loe duduk disitu?.” Seru Reza.
Aku raih tangannya. Ia memasangkan jaketnya padaku. Dia juga menghapus air mataku. Reza menggeggam tanganku dan membawaku pergi dari tempat menyebalkan ini.
Aku menundukkan kepala selama perjalanan. Aku malu memperlihatkan mataku yang bengkak pada Reza. Selain itu, rasa maluku yang tadi hilang sudah kembali lagi. Aku mulai risi pada orang-orang yang dari tadi mengamatiku. Aku tidak heran kenapa dari tadi kami menjadi pusat perhatian. Selain karena aku yang kucel dan seperti orang gila. Reza, orang yang menggandengku saat ini termasuk dalam kategori laki-laki impian. Tentu saja karena tubuhnya yang tinggi berotot, wajahnya yang tampan, kulitnya yang coklat karena terlalu sering bermain bola, juga karena prestasi akademisnya yang oke. Mungkin kalau bukan karena sikapnya yang kasar dan dia bukan senior di kampusku, aku juga akan menjadi pengagumnya sama seperti Rea sahabatku yang sangat memujanya. Tiba-tiba Reza berhenti berjalan, membuatku menabrak punggungnya yang bidang. Lalu ia berbalik memandangiku.
“Loe! Kenapa nunduk terus? Mau cari uang recehan jatuh.” Seru Reza keras. Ajaib, suara Reza tidak kalah dengan derasnya air hujan. Tidak heran kalau ia bisa menjadi bos di kampus. Aku angkat kepalaku dengan malas.
“Apa?.” Jawabku lemas.
“Gitu cara loe ngomong sama bos loe. Inget, loe masih punya hutang sama gue tiga juta.” Kata Reza.
Tuh kan, apa aku bilang. Mana mungkin dia bersikap lembut padaku. Ini kan sudah kebiasaannya membentakku setiap waktu. Aku malas meladeni Reza sekarang. Toh semua yang ia katakan benar. Reza memang bosku dan aku juga berhutng tiga juta padanya. Karena tanpa sengaja aku menabrak mobil barunya. Dan untuk membayarnya aku harus menjadi asisten pribadinya selama satu bulan.
“Mau kemana?.” Katanya lembut ketika kami sampai di depan mobilnya. Aku sempat kaget dengan nada suaranya. Baru kali ini dia berkata lembut padaku. Ajaib sekali dia hari ini, apa mungkin dia salah minum obat ya?
“Gue mau pulang.” Jawabku jujur. Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, ia sudah mulai menjalankan mobilnya. Memang dia tahu alamat rumahku?. Tanya ku bingung dalam hati. Tapi tidak ada lima menit, aku sudah berada di depan rumah. Aku menatapnya heran, mencoba meminta penjelasan padanya. Tapi dia malah membuang mukanya dan menyuruhku masuk ke rumah.
Tiba-tiba Ibuku keluar dari balik pintu. Dengan raut mukak marah Ibu memandangiku dari atas sampai bawah. Nyaliku sudah mengecil saat ibuku menuangkan kemarahannya.
“Dasar anak nggak berguna! Apa yang kamu lakukan di luar sana, heh! Aku sudah bekerja keras untuk menghidupi mu. Kamu malah keluyuran nggak jelas seperti ayah mu.” Serunya lantang. Yah, aku memang sudah terbiasa dimarahi olehnya. Aku tahu Ibu tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya stres menghadapi kelakuan ayahku yang seenaknya sendiri.
“Maaf, Bu. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” Kataku takut. Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi kemarahannya.
“Pergi sana! Keluar dari rumahku. Aku nggak mau melihat muka mu lagi!.” Kata Ibu keras. Lalu ia melempar tas kearahku. Hal ini sering terjadi padaku. Aku sudah biasa terusir dan kembali lagi besok. Setidaknya seminggu dua kali aku melakukan rutinitas ini. Tapi aku sempat berharap kalau hal ini tidak terjadi sekarang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Karena aku takut penyakit darah tinggi Ibuku kambuh. Aku bergegas memungut tas dan pergi dari rumah. Karena hal ini sering terjadi, aku tahu harus pergi kemana. Tubuhku mulai menggigil. Seharusnnya tadi aku berganti baju dulu. Aku melihat mobil Reza dari kejauhan. Ternyata dia melihat semua kejadian yang aku alami. Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Gue nggak nyangka nyokap loe sampai segitunya.” Serunya heran. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat seorang anak diusir oleh ibunya sendiri.
“Nggak. Nyokap gue baik kok. Gue rela melakukan apapun yang dia mau. Tapi selama ini gue cuma buat dia susah. Makanya loe jangan bentak-bentak gue, gue udah kenyang sama yang begituan di rumah.” Candaku. Aku memang rela melakukan apapun untuk Ibuku.
“Makanya loe jangan nyebelin. Loe mau kemana?.” Balasnya jutek. Tapi aku bisa melihat senyumnya.
“Anterin gue ke rumah Rea ya, Pak Supir.” Candaku lagi. Hahaha, dia hanya bisa tersenyum padaku.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rea. Rumah Rea hanya berjarak beberapa blok dari rumahku. Aku sudah hampir turun, ketika aku melihat motor Indra berhenti di depan rumah Rea. Reza menarikku masuk ke dalam mobilnya. Aku mematung ketika Indra mencium Rea. Jadi wanita yang aku lihat tadi adalah sahabatku sendiri. Hatiku hancur lebur. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri. Air mataku mengalir lagi. Aku memandang Reza, memintanya untuk segera membawaku pergi dari sini. Dan tiba-tiba darah keluar dari hidungku dan kegelapan mulai menguasaiku.
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Kepalaku terasa pening dan berat. Ku rasakan selang infus di tanganku. Aku benci rumah sakit. Aku melihat Reza berdiri di sampingku, raut wajahnya menggambarkan kalau ia sangat khawatir. Seorang dokter menghampiri kami. Ia terlihat tegang melihat catatan kesehatanku. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Seumur hidupku, aku tidak pernah sakit yang serius atau bahkan pingsan seperti ini.
“Dokter, sebenarnya saya sakit apa?.” Tanyaku. Ada rasa takut di hatiku.
“Saya belum tahu pasti. Kamu harus melakukan beberapa pemeriksaan.” Kata dokter padaku.
“Kalau begitu lakukan pemeriksaan lengkap sekarang, biar saya yang menanggung semua biayanya.” Kata Reza di sampingku, sepertinya dia lebih penasaran dari pada aku.
Ternyata pemeriksaan itu tidak terlalu memusingkan seperti perkiraanku. Dalam dua jam aku bisa melihat hasil laboratoriumnya. Aku hanya harus merelakan darahku diambil dengan jarum yang mengerikan itu. Reza menemaniku menunggu hasil testnya. Setelah menunggu lumayan lama, dokter memanggil kami ke ruangannya. Reza membantuku berjalan, ia dengan senang hati membawakan kantung infusku.
“Apa hasilnya, Dok? Tata sehat kan?.” Tanya Reza ketika kami sampai di ruangan dokter.
“Maaf, sepertinya tidak. Menurut hasil laboratorium, Tata mengidap kangker sumsum tulang belakang stadium akhir.” Kata dokter itu. Aku melihat raut wajahnya, bukan wajah seseorang yang sedang berbohong atau bercanda. Aku melihat Reza, dia juga sama kagetnya denganku.
“Kangker sumsum tulang belakang stadium akhir?.” Kataku memastikan. Mungkin saja aku salah mendengar kan.
“Benar.” Jawab dokter itu mantap. Tidak bisakah dia berbohong sedikit, dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Reza memandangiku dengan wajah khawatir. Aku mencoba mengolah semua kejadian hari ini. Di putuskan oleh pacar, di usir oleh Ibuku, dan di khianati oleh sahabatku sendiri. Sekarang harus bertambah dengan penyakit kangker. Apa yang sudah ku lakukan sampai tuhan menghukumku seperti ini. Aku mencoba menerima kenyataan, berusaha tegar agar tidak menangis.
“Berapa sisa umurku?.” Tanyaku pada dokter. Ku rasakan Reza menegang di sampingku.
“TATA!.” Bentak Reza. Sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaanku.
“Apa? Bukannya ini pertanyaan yang lumrah. Gue mesti tahu berapa sisa umur gue.” Kataku berusaha tegar, padahal dalam hati aku ingin bersandar dan menangis di bahunya.
“Saya bukan tuhan yang berhak memfonis umur manusia. Tapi kalau melihat keadaan mu saat ini, saya hanya bisa memperkirakan sekitar tiga atau empat bulan lagi.”
Reza terlihat tidak menyukai jawaban dokter. Ia menyeretku keluar. Membawaku ke taman rumah sakit yang gelap. Tiba-tiba ia memelukku erat.
“Nangis aja kalau loe mau nangis. Mumpung di sini nggak ada orang.” Katanya. Aku menangis di pelukannya. Menumpahkan semua yang terjadi hari ini di bahunya. Aku merasa putus asa, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Jangan beri tahu siapapun tentang penyakit gue. Termasuk ke nyokap gue.” Pintaku. Reza sempat terkejutdan menolak permintaanku. Tapi akhirnya setelah aku memohon ia menyetujuinya.
Setelah itu hari-hariku berubah. Aku masih tetap keluar dari rumah, sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah setiap aku pulang kuliah, Reza selalu menemaniku menjalani perwatan kangker. Dia juga yang menebus obat-obat mahal itu. Ibuku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku juga mengambil keputusan untuk tidak membenci Rea. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaikku.
Seperti saat ini, aku dan Reza akan pergi ke rumah sakit. Namun mataku menangkap sesatu. Aku melihat Rea menangis di bawah pohon. Aku meminta Reza menungguku di mobilnya sebentar, sementara aku menghampiri Rea.
“Ada apa, Re?.” Tanyaku perhatian. Rea terkejut melihatku.
“Ngapain loe di sini?.” Balasnya sinis. Aku mencoba bersabar, seharusnya yang marah kan aku.
“Gue penasaran aja, kenapa loe nangis. Jangan bilang kalau itu karena Indra.” Kataku asal. Aku sempat khawatir melihat ekspresi wajah Rea yang seperti ingin memakanku. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ia malah memelukku sambil menangis.
“Maafin gue, Ta.” Serunya sambil menangis. Aku tidak mampu menahan air mata lagi. Alhasil aku juga ikut menangis.
“Gue maafin loe udah lama, Re. Loe itu sahabat terbaik gue. sekarang loe cerita, kenapa loe nangis di sini?.” Selidikku. Rea terlihat takut menceritakannya. Tapi setelah aku mendesaknya, akhirnya Rea mau menceritakan semuanya.
“Gue hamil, Ta. Gue hamil, tapi Indra nggak mau tanggung jawab.” Jelasnya sambil menangis. Aku seperti tersambar petir di siang hari. Tidak ku sangka kalau Rea menjadi korban yang lebih parah dari pada aku. Tanpa berfikir panjang aku menarik Rea untuk menemui Indra. Sangat tidak adil kalau Rea hanya menanggungnya sendiri. Aku dan Rea menuju tempat Indra biasa menghabiskan waktu istirahat siang. Aku melihatnya duduk dengan santai dan menggoda mahasiswi baru yang lewat.
“Loe ikut gue.” Perintahku padanya. Indra hanya tersenyum acuh. Emosiku yang tinggi dan akal sehatku yang mulai tidak bekerja secara normal membuatku menarik Indra ke lorong kampus yang sepi. Rea yang mengikuti di belakang hanya diam seribu bahasa.
“Loe mesti tanggung jawab. Rea hamil, Dra.” Kataku lembut. Aku tahu kalau menghadapi Indra dengan amarah, tidak akan mempan.
“Tanggung jawab? Mungkin aja itu bukan anak gue. Loe kan nggak tahu apa kelakuan dia yang sebenarnya.” Jawabnya. Amarahku memuncak lagi. Kutampar pipi kirinya dengan keras.
“Harusnya gue lakuin ini dari dulu. Dan satu lagi.” Lalu aku menampar pipi kanannya.
“Ini buat loe yang udah kurang ajar sama Rea.” Lanjutku lagi. Ku lihat raut wajahnya yang berubah merah karena marah. Ia mengayunkan tangan untuk memukulku. Tapi Reza berhasil mencekalnya. Wow, Reza selalu bersikap seperti supermanku akhir-akir ini.
“Cowok yang berani mukul cewek itu, BANCI!.” Kata Reza. Lalu tanpa bisa aku sadari, mereka menjelma sebagai Muhamad Ali dan Cris Jhon. Aku coba memisahkan mereka namun karena tubuhku yang mungil, aku tidak bisa menyentuh mereka. Salah-salah malah aku yang terkena tinju dari mereka.
“CUKUP!.” Teriakku lantang. Mereka berdua berhenti seketika dan menoleh sesaat padaku. Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu mereka menuju ronde kedua. Ku rasakan darah mengalir dari hidungku. Rea yang sadar dengan keadaanku langsung berteriak. Seketika itu juga aku melihat Reza melepaskan cengkraman tangannya dari Indra dan menghampiriku dengan wajah khawatir.
“Ta, loe nggak papa? Loe pasti nggak minum obat.” Kata Reza khawatir. Aku menggelengkan kepala tanda bahwa yang dikatakan Reza tidak benar. Aku selalu meminum obatku tepat waktu.
Tiba-tiba Indra mengarahkan tongkat baseball padaku. Dan detik berikutnya aku melihat Reza berada di depanku. Setelah itu aku melihat bercak darah di lantai, tapi bukan darahku. Bukan karena mimisan yang sedang aku alami. Aku menepuk punggung Reza pelan, tapi tubuh Reza limbung ke arahku. Dan aku melihat wajah Reza yang berumuran darah.
***
“Reza mengalami kebutaan permanen.” Kata dokter padaku setelah beberapa hari kami menginap di rumah sakit. Aku memandang wajah Reza yang hampir seluruhnya tertutupi oleh perban. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya.
“Satu-satunya cara adalah dengan donor kornea. Saya sudah mendaftarkan nak Reza ke bank kornea. Jadi sabar saja menunggu pendonor yang cocok dengan kamu.” Lanjut dokter. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Donor kornea pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku memandangi Reza lagi, dia masih saja tanpa ekspresi. Aku mendekati Reza, menggenggam tangannya.
“Za, gue…” Kata-kataku tercekat, keadaannya yang seperti ini kan karena aku. Aku merasa sangat bersalah dengannya. Tangan Reza mulai meraba mencari wajahku. Tubuhku terasa tersengat listrik 1000 volt ketika jemarinya menyentuh pipiku. Oh tuhan, apa benar aku jatuh cinta pada Reza. Jantungku berdegup lebih cepat saat Reza mulai berbicara.
“It’s Oke. No problem. Gue nggak papa, Ta.” Kata Reza sambil tersenyum. Ah, rasanya aku mau pingsan melihat senumannya itu. Tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah lagi. Untung saja Reza tidak bisa melihatnya. Dan detik berikutnya, aku sudah dikuasai oleh kegelapan.
Saat aku sadar dari pingsan, ku lihat Reza duduk dengan kursi roda di sampingku. Aku melihat keadaan sekitar. Rea dan Ibuku berdiri di samping dokter sambil menangis. Aku heran, kenapa Ibuku mengetahui kalau aku ada di sini. Dokter menyuruh Reza dan Rea pergi. Reza bersikeras ingin selalu ada di sampingku. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi belum sempat dokter memarahinya, Rea yang tanggap langsung mendorong kursi roda Reza keluar dari kamarku. Sekarang hanya tersisa aku dan Ibuku, dokter memulai pembicaraannya.
“Kangker mu sudah menyebar. Kemo terapi dan obat tidak akan bisa menghambatnya lagi. satu-satunya solusi adalah dengan cangkok sumsum tulang belakang. Aku sudah mengecek sumsum tulang Ibu mu, dan hasilnya cocok. Sekarang kami hanya menunggu keadaan mu stabil untuk dapat dioperasi.” Jelas dokter panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi sebelumnya saya punya satu permintaan.” Kataku. Ibuku dan dokter terkejut mendengarnya. Namun menit berikutnya mereka bisa mengerti apa yang aku rasakan.
“Yang pertama, katakan pada Reza kalau aku akan berobat ke Swis dan akan kembali beberapa bulan lagi. Yang kedua, jika nanti operasiku gagal. Aku ingin menyumbangkan korneaku pada Reza, dan organ tubuhku yang masih berfungsi dengan baik kepada orang yang membutuhkannya.” Pintaku. Ibu berkata kalau aku tidak boleh pesimis. Tapi aku sudah menetapkan hati, aku tidak mau melihat orang menderita penyakit sepertiku. Setidaknya aku bisa berguna untuk orang lain setelah aku meninggal. Dan mereka menyetujuinya.
***
AKU - REZA
“Za, besok gue berangkat ke Swis.” Kata Tata padaku. Andai saja aku bisa melihat wajahnya saat ini, tapi itu tidak mungkin. Ku rasakan air matanya menetes di tanganku. Ku genggam tangannya. Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi untuk sekarang ini aku tidak pantas. Dengan keadaanku yang tidak dapat melihat indah wajahnya, dan dia yang sedang berjuang dengan penyakitnya membuatku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku. Tiba-tiba kurasakan Tata memelukku sambil menangis. Aku tidak berani membalas pelukkannya.
“Ada apa, Ta? Loe kenapa?.” Tanyaku.
“Tunggu gue ya. Nggak lama kok, jadi loe tunggu gue.” Jawab Tata dambil mempererat pelukkannya. Karena sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi, akhirnya aku membalas pelukkannya.
“Gue cinta sama loe, Za. Gue cinta sama loe. Jadi tunggu gue.” Kata Tata tiba-tiba. Aku terkejut mendengar perkataannya itu. Aku memeluknya rebih erat lagi. Darahku berdesir, jantungku begejola riang. Dia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Gue juga, Ta. Gue cinta sama loe sejak pertama kali kita ketemu.” Jawabku senang. Kalau saja aku bisa melihat, aku pastikan kalau dia pasti tersenyum sekarang. Membayangkan senyumnya yang seperti malaikat membuatku seperti tersengat listrik. Dan waktu berikutnya, aku dan Tata hanya diam seribu bahasa. Hanyut dengan perasaan cinta kita, dan ku rasakan ia mulai tertidur di pelukanku.
***
Hari ini tepat satu bulan Tata pergi ke Swis. Aku duduk di bawah pohon cemara di kebun rumahku. Aku masih belum mendapatkan pendonor untuk korneaku. Jadi sekarang aku harus berusaha menghafal lingkungan sekitarku dan belajar menggunakan huruf broiles. Ku dengar Indra sudah mendekam di penjara setelah beberapa minggu menjadi buronan. Ringtone handphoneku berbunyi, dan suara dokter Herman langsung menyambutku.
“Saya ada berita bagus untuk kamu. Kamu sudah dapat pendonor yang cocok.”
Aku melompat kegirangan. Bersorak riang seperti orang gila. Aku ingin memberitahu hal paling membahagiakan ini pada pacarku tersayang, Tata. Aku hubungi nomor handphonenya di Swis, namun tidak ada jawaban. Yah, mungkin dia masih menjalani perawata pasca operasi. Aku menunggu hari operasiku dengan gembira. Aku sudah mengirimkan email pada Tata kapan perbanku akan dibuka. Aku ingin orang pertama yang aku lihat adalah dia.
***
Hari ini adalah hari perban mataku di buka. Orang tuaku yang tinggal di London memberikan kejutan dengan datang ke Indonesia untuk melihat momen ini. Rea, sahabat Tata juga ada disini. Aku kecewa mendengar kabar kalau Tata tidak bisa datang kemari. Tapi aku maklum, dia harus sehat agar kami bisa selalu bersama. Nanti aku saja yang memberinya kejutan. Dokter mulai melepas perban di mataku. Ia menyuruhku mengerjapkan mata perlahan. Setelah itu aku dapat melihat cahaya pertama di hidupku.
Ayah dan Bundaku tersenyum senang di sampingku. Ku lihat Rea juga tertawa senang, namun menit berikutnya ia menangis. Aku bingung melihat reaksinya, ini membuatku penasaran.
“Gue mau nelpon Tata.” Kataku senang. Dia harus mendengar dari sana betapa bahagianya aku sekarang.
“Gue mau ngasih ini, Tata nitip ini sebelum berangkat. Dia tahu kalau hari ini akan tiba.” Kata Rea sambil menangis. Aku membuka surat itu.
“Untuk Rezaku. Maaf aku tidak bisa berada di samping mu saat ini. tapi aku akan selalu berada di sisi mu. Selalu kamu lihat. Karena dunia yang kamu lihat sama dengan yang aku lihat. Cintaku untukmu selalu.”
Aku tersenyum membaca surat Tata. Aku tahu pasti dia sedang bersembunyi untuk memberi kejutan padaku.
“Mana dia?.” Tanyaku penasaran.
“Tata udah meninggal, Za. Operasinya gagal. Dia yang jadi pendonor buat loe.” Kata Rea. Ku rasakan seluruh tubuhku mati rasa. Dan detik berikutnya aku sudah menangis histeris.
***
Aku bersimpuh di atas pusaran Tata. Aku membawakan dia seikat bunga lili kesukaannya. Aku tersenyum dan meninggalkan sepucuk surat untuknya.
“Untuk Tataku. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan. Tanpa cintamu aku tidak akan mampu bertahan. Aku akan hidup dan akan terus mencintaimu. Membantu melihat dunia lewat mata yang kamu berikan. Walau tanpa kamu ada di sampingku.”
Langganan:
Postingan (Atom)