Cerpen: Cinta Kedua

Ini adalah cerpen ke-3ku, hm walau belum mendapat juara di Lomba Cipta Karya Cerpen yang diadakan STAIN Purwokerto, tapi saya sudah cukup bangga, tinggal menunggu komentar yang berupa kritik dan saran, hehehe... biar saya bisa memperbaikinya dan membuat karya yang bermutu, terima kasih, selamat menikmati...

Cinta Kedua
Oleh : Desy Ratna Christiyani

Angin berhembus menerbangkan daun-daun yang rapuh ke arahku. Entah kenapa, aku merasa mereka terlalu lelah untuk bergelantungan pada ranting yang mulai lapuk itu. Mereka lebih memilih pergi terbawa angin bersama debu. Mungkin, bagi mereka lebih baik tersapu oleh petugas kebersihan dan berakhir di tempat pembuangan, daripada terus merasa cemburu.  Karena wisatawan lebih memilih memotret Lawang Sewu daripada mereka.
Sang Surya pun terlihat pasrah, ia tak terlalu garang hari ini. Sepanjang hari ia ngambek, tak mau memperlihatkan senyumnya. Biasanya dia suka pamer kekuatan padaku. Tapi sekarang dia terlihat malu, bersembunyi di balik awan kelabu. Ah, atau barang kali sebenarnya awan itu yang nakal, dengan sengaja awan itu berdiri di depan Sang Surya. Awan kelabu itu sengaja pamer, menunjukkan bahwa ia lebih hebat dari pusat galaxy bima sakti yang terkenal tangguh, kuat, dan tak terkalahkan. Bahkan planet jupiter pun tunduk, tahluk ikut berputar mengelilingi Sang Surya.
Perlahan waktu merangkak, membuat tugasku terasa lebih panjang. Walau awan kelabu itu menutupi seluruh kotaku hari ini, namun itu tidak membuat animo wisatawan berkurang. Aku terlalu sibuk melayani mereka yang ingin berfoto denganku.
Seolah sengkongkol dengan matahari, bintang dan bulan pun tidak memperlihatkan sinarnya ketika saatnya dia show. Bintang-bintang yang biasanya menaungiku, kini lenyap bagai terkena sapuan cleaning service. Bulan pun hanya tampak sesekali, sepertinya ia sedang malas menerangi kotaku sekarang ini. Suasana seperti ini juga membuatku malas dan memilih duduk memandangi pintu masuk. Ya, aku menunggu seseorang. Seseorang yang sering aku lihat setiap malam menjelang. Ia selalu duduk di bangku yang berada tepat di depanku. Aku mendengar senandung gemerisik daun yang tertiup angin, tentu saja aku juga ikut medendangkan tembang kuno seperti gambuh dan asmaradhana bersama alam. Ketika sedang asik, sosok itu muncul di depan gerbang sambil menyapa setiap pedagang yang ia kenali.
Gadis itu berjalan gontai kearahku, wajahnya terlihat murung bagai awan yang menaungi kota ini. Aku sangat mengenali gadis berparas ayu itu. Namanya Rima, ia berumur lebih muda dariku. Namun wajahnya sekarang tampak lebih tua dari seharusnya. Terlihat dengan jelas dari wajahnya, ia menyimpan begitu banyak sesal yang terpendam. Mata itu terlihat redup, tidak seperti malam bulan lalu. Dulu, mata itu menggambarkan semangat kreatifitas seorang penari serimpi yang juga fasih dan apik menyanyikan tembang-tembang Jawa kuno kesukaanku. Mata yang jahil dan lucu tentu saja. Namun sekarang kenapa mata itu redup? Seakan tak ada mimpi dalam dirinya lagi.
 Ia berjalan gontai melewatiku, tapi sedetik kemudian ia menghampiriku.  Mulutnya seperti ingin berucap sesuatu, mencurahkan semuanya padaku. Tapi detik itu juga ia mengurungkan niatnya. Ia memilih duduk diam seperti yang sering ia lakukan kini.
Rima melamun cukup lama, ia terpaku pada sesuatu di jemarinya. Ingin aku menyapanya, menanyakan bagaimana kabarnya saat ini. Tapi aku tidak mampu berucap. Aku terlalu pengecut untuk sekedar mendengar jawabannya. Sedikit takut, kalau aku hanya akan memperburuk suasana. Aku cukup tahu diri, karena aku tak mungkin berbuat sesuatu untuk gadis ayu itu. Jadi aku hanya diam, membisu , dan mematung. Mebiarkan Rima larut dalam kabut hidupnya sendiri.
Namun tiba-tiba air menetes dari pipi halusnya. Astaga! Dia menangis! Gadis ayu itu menangis sendirian di sini. Kenapa kamu menangis Rima? Katakan apa sebabnya, mungkin aku bisa membantumu, kalau kamu percaya padaku tentu saja.
Seorang wanita setengah baya menghampirinya, hatiku sedikit lega melihatnya, mungkin dia bisa menemanimu. Seseorang sepertin Bude Arni tentu saja lebih berguna daripada aku. Bude Arni memberimu semangkuk wedhang ronde hangat. Terima kasih bude, dia memang membutuhkannya. Setelah meminum ronde itu, aku yakin dia akan kembali tersenyum. Aku tidak akan membiarkannya kehilangan senyuman yang ayu itu. Senyuman yang membuatnya terlihat lebih manis, karena ketika ia tersenyum, seperti ada pelangi yang menyinari mata coklatnya.
“Kenapa, Nok? Kenapa kamu menangis sendiri di sini?”
“Tidak ada apa-apa Bude. Saya baik-baik saja. Hanya lelah barangkali, pentasnya sebentar lagi,” jawabmu lesu.
Hatiku memberontak. Tidak! Aku tidak percaya itu. Pasti ada yang lain yang mengusik hatimu. Tapi aku tidak tahu apa itu, aku juga tak bisa menanyakannya. Tolong bude, tanyakan padanya. Mungkin denganmu Rima akan terbuka.
“Cerita pada Bude, ada apa sebenarnya? Apa yang merisaukan hatimu? Jangan kamu pendam sendiri perasaanmu itu, tidak baik.”
“Mas Ari Bude, dia belum memberi kabar. Padahal satu bulan yang lalu, dia masih rajin menelepon, masih rajin mengirim e-mail. Tapi sekarang dia menghilang begitu saja.”
“Kenapa nggak kamu saja yang menghubungi dia?”
Sampun[1] Bude. Saya sudah mencoba meneleponnya, tapi tidak pernah diangkat. Saya juga sudah mengirim e-mail ratusan kali, tapi tetap tidak ada balasan. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Ari.”
Yo uwes dienteni wae[2]. Mungkin dia sedang sibuk mengurus pementasan gamelan di sana, jadi nggak sempat balas telepon dan surat-suratmu itu. Sabar, Nduk.”
Kamu mengangguk tanda setuju, sinar di wajahmu kembali terang sekarang. Kini aku tahu apa yang sedang kamu risaukan. Mas Ari, laki-laki yang membawamu ke sini setahun lalu. Laki-laki yang bisa membuatmu tertawa dan menangis dalam waktu yang sama. Laki-laki yang terlihat lembut dan manis di matamu. Tapi di mataku, ia adalah pembohong besar!
Rima, aku mohon jangan percaya padanya, dia sudah membohongimu. Di belakangmu, dia mengajak wanita lain kemari. Dia tidak setia seperti yang kamu pikirkan. Laki-laki itu juga tidak pergi ke Belanda seperti yang ia katakan beberapa bulan lalu. Dia tidak sedang mengharumkan nama bangsa Indonesia di sana. Dia di sini, ada di kota ini, membohongimu dengan mudahnya. Tidakkah kamu tahu Rima? Dia mempermainkanmu, menipumu mentah-mentah.
Ingin aku meneriakkan semua yang terlintas di kepalaku. Tapi bagaimana bisa? Apa aku sanggup menyuruhmu melepaskan cincin yang diberikannya sesaat sebelum berpisah denganmu? Aku memang terlalu pengecut untuk mengungkapkan segalanya. Jadi aku lebih memilih bungkam, mungkin suatu saat nanti kamu akan tahu seberapa busuk laki-laki yang kamu puja itu.
Aku melihat Bude Arni memberikan selendangnya untukmu. Lihatlah mereka semua menyayangimu Rima, Bude Arni contohnya, dan aku juga. Kelak bila kamu mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, kamu tak perlu berpikir panjang, kemana akan kamu muntahkan seluruh unek-unek[3]mu. Karena kami yang berada di sini siap menampungnya. Karena di sini juga rumahmu. Pintu Lawang Sewu selalu terbuka untukmu.
Malam ini memang udara terasa menusuk tulang. Tapi ketika melihat senyummu, kurasakan seluruh tubuhku menghangat. Seperti ada bara api dalam hatiku yang panas, membara, dan akan terus membesar bila kamu tersenyum sekali lagi.
“Ya sudah, cepat pulang. Cah ayu[4] sepertimu, pamali keluar malam.”
Inggih[5] Bude, sebentar lagi. Masih ada satu-dua wisatawan yang belum keluar, mereka sedang asik berfoto. Maklum katanya Lawang Sewu membuat mereka seperti berada di Belanda. Lagi pula Mas Andi juga terlambat, ada urusan teater kampus katanya.”
***
Jalan utama kota Semarang kini tampak lengang, hanya satu-dua kendaraan yang masih menyusuri indahnya malam yang sunyi ini. Maskot kota Semarang pun terlihat sudah terlelap. Aku hanya bisa memandangi langit tanpa bintang yang menjadi atap rumahku sekarang. Heningnya malam membuatku merasa sendiri. Tapi terkadang kesunyian seperti ini bisa membuat hatiku tenang, sering pula membuatku khawatir dan ketakutan tanpa alasan. Aku tahu, bagi sebagian orang, Lawang Sewu terlihat begitu menyeramkan. Masih sangat segar dalam ingatanku, beberapa tahun lalu, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kengerian Lawang Sewu melalui reality show, yang bahkan, membahana sampai ke negeri seberang. Aku tidak melihatnya langsung, aku hanya mendengarkan rekan kerjaku yang berceloteh sepanjang jalan, ia menceritakan betapa seramnya situasi saat itu. Untungnya aku ditemani oleh suara angin yang mengibaskan tubuhnya ke pohon-pohon besar di belakangku. Tapi sekarang aku tak peduli, karena gedung tua ini tempat tinggalku, tempat paling tepat untukku.
Suara deru motor antik kesukaanku terdengar bahkan sebelum kendaraan itu berada di hadapanku. Vespa keluaran tahun 1980-an itu meraung kencang membelah kesunyian jalan. Aku tersenyum mendengar raungan kendaraan tua itu. Ya, aku serasa memiliki teman.
Rima berdiri di sampingku, menunggu Andi datang. Aku kenal benar laki-laki itu. Pemuda kocak dan jahil, namun hatinya putih bagai kapas. Suaranya bagai nyanyian merdu setiap minggu pagi di gereja seberang jalan. Tingkahnya sopan, tuturnya lembut, dan dia tahu benar bagaimana memperlakukan gadisnya. Andai aku dilahirkan beberapa tahun lebih muda, dan aku tak keburu jatuh cinta dengan seorang masinis di sana, mungkin aku akan memilih Andi sebagai pendamping hidupku sekarang.
Raungan itu semakin mendekat, mungkin Andi sedang memaksa Si Emon untuk berpacu lebih daripada biasanya. Rima terkikik pelan ketika dilihatnya Andi terengah-engah menghampirinya. Gadis itu menawarkan sapu tangannya, Andi menghapus peluh yang menetes di pipinya sambil tersenyum.
“Ahhh, sorry telat. Emon nih, pakai ngambek dulu. Hehe...,” kata pemuda itu setelah mengambil nafas. Rima tersenyum sekali lagi. Aku tertawa melihat tingkah mereka, atau mungkin aku hanya iri.
“Kenapa nggak dijual Si Emon kalau ngambek melulu kerjanya?” canda Rima, sinar matanya kembali terang. Pemuda itu bisa mengembalikan sinar matamu. Aku merasa Andi lebih tepat bersanding di sampingmu ketimbang Ari.
“Sttttt, jangan begitu. Nanti Emon dengar, trus ngambek lagi gimana?” kata Andi sambil tertawa, memamerkan lesung pipinya yang manis.
“Emon kan baik. Jadi waktu aku numpang, dia nggak mungkin mogok. Iya kan, Mon?” kata Rima sambil duduk membonceng di jok belakang, ia memasang helm yang diserahkan Andi padanya. Setelah dirasa aman, Andi menyalakan mesin vespanya, lalu meluncur membelah jalanan pusat kota Semarang yang kini benar-benar sunyi. Aku ditinggalkan seorang diri di sini, tapi tak mengapa. Masih ada Lawang Sewu dan lampu-lampu kota kuno yang bisa menemaniku bernostalgia, membayangkan kebersamaanku dulu dengan Sang Masinis.
***
Matahari kali ini bersinar lebih garang, mungkin ia ingin membalas dendam karena kemarin ia merasa dilupakan. Hari ini angin bertiup lebih pelan, bersahabat, dan nyaman. Barang kali ia tahu, kalau aku akan ikut terbang bila ia terus meningkatkan kekuatannya. Burung-burung gereja juga ikut meramaikan suasana, mereka terbang diangkasa dengan bebasnya. Hari ini begitu indah, akan sia-sia bila aku tak ikut berdendang dengan alam. Aku bersenandung lebih halus dari biasanya, memanjakan wisatawan dengan tembang gambuh yang merdu. Bude Arni membantuku mendendangkan tembang-tembang Jawa kuno sambil menyiapkan lontong gimbal pesanan wisatawan yang membludak hari ini.
Waktu terasa amat cepat. Aku menikmati hari ini, banyak wisatawan yang memujiku tadi. Tapi aku memang belum sepadan dengan ke elokkan Rima saat menari serimpi. Tubuhku tak seluwes Rima. Gadis itu adalah penari terbaik di kotaku.
Aku menunggu Rima seperti biasanya, tentu saja sambil sesekali melayani wisatawan yang ingin berfoto denganku. Tapi ketika senja berganti menjadi malam yang bertabur bintang, gadis itu belum datang. Dadaku berdebar, takut membayangkan yang bukan-bukan. Oh Rima, di mana kamu? Kenapa kamu tak mengunjungiku seperti biasanya?
***
            Mega di ufuk membangunkanku, sinarnya yang cemerlang menembus celah-celah pohon di Lawang Sewu. Ah, rasanya aku malas meladeni wisatawan hari ini. Karena aku tahu, hari ini pun gadis itu tidak akan datang mengunjungiku. Sudah dua bulan ia menghilang, aku hanya sesekali mendengar Bude Arni bercerita tentangnya.
            Tapi ketika senja menyongsong, aku seperti melihat sosokmu memasuki pintu masuk. Sosok gadis ayu yang kurindukan, atau mungkin ini hanya imajinasiku? Tapi tidak, bayangan itu begitu nyata. Gadis ayu yang tersenyum dan berceloteh senang itu, mirip sekali dengannya. Bahkan sinar matanya pun sama. Tapi dia terlihat lebih muda, lebih segar dan bergairah, sama seperti saat Rima yang kurindukan dulu. Mataku tak henti memandang gadis itu, mungkin rasa rinduku pada Rima akan sedikit terobati bila aku menatapnya.
Tiba-tiba, sosok itu mendekat, duduk di bangku yang menghadapku, tempat di mana Rima biasa duduk. Dia memandangku lembut dan penuh  kasih sayang, dan detik berikutnya aku tersadar. Itu kamu cah ayu! Gadis yang sangat aku rindukan.
            “Hai, masih ingat padaku kan?” sapamu sambil tersenum dan melambaikan tangan.
Tentu saja, aku masih sangat mengingatmu. Aku selalu menunggumu di sini. Kenapa kamu baru muncul? Kenapa kamu lenyap begitu saja? Seperti mendengar pertanyaanku, kamu menjawabnya dengan senyum.
            “Maafkan aku yang meghilang begitu saja. Aku sadar, tidak seharusnya aku membencimu, karena kamu sebenarnya tak ada hubungannya dengan semua ini.  Mungkin bila kamu bisa bersuara sepertiku, kamu sudah mengatakannya padaku? Kalau saja kamu bukan kereta tua peninggalan Belanda, kamu pasti akan menasehatiku. Bila sebenarnya aku salah mencintai Mas Ari, karena dia telah mengkhiyanatiku. Maafkan aku karena pernah membencimu, tapi kini aku sadar, kalau sebenarya, kamulah yang membuatku bertahan. Kamu yang selama ini setia menemaniku, menunggu di sini.”
            Aku terdiam mendengar kata-katamu. Ya, tentu saja aku akan bersuara, bila saja aku bukan kereta tua peninggalan Belanda. Akan aku katakan semua yang kuketahui padamu. Karena aku menyayangimu.
            “Sekarang aku telah sembuh, telah kembali seperti dulu. Aku akan mengunjungimu setiap hari, itu janjiku. Tapi kamu juga harus berjanji untuk selalu menemaniku. Oke?”
            Tentu saja, aku akan tetap menemanimu. Walau nanti pemerintah memutuskan untuk menjual besi rongsokkan sekali pun. Kurasakan semilir angin menyentuh tubuh besiku, kini aku bisa terus tersenyum bersamamu.
            Warna orange kemerah-merahan berubah menjadi hitam pekat, bulan datang bersama teman seperjuangannya, mengusir matahari yang seharian ini bertahta. Cahaya lampu-lampu klasik menerangiku, para wisatawan berebut berfoto denganku karena sebentar lagi jam malam Lawang Sewu akan berlaku. Aku tidak memperdulikan mereka, lebih asik mendengar celotehan Rima daripada berpose dan terkena lampu blitz kamera.
            Terdengar suara deru vespa tua yang menambah keramaian kota Semarang malam ini. Aku kenal benar dengan suara cempreng khas tahun 80-an itu. Tentu saja itu vespa milik laki-laki terunik yang pernah kutemui. Namun ketika sosok Andi dengan vespanya muncul di hadapanku, nafasku terhenti. Bocah itu merias Si Emon dengan bunga mawar merah dan pita renda berwarna putih. Asataga! Mungkin dia ingin..., aku menghentikan suara batinku. Lebih asik melihat kenyataannya ketimbang berspekulasi sendiri dalam batin.
            Pemuda itu turun, menghampiri Rima yang sedang asik bercerita denganku. Rima terkejut melihat Emon yang telah disulap bak motor pengantin tahun jadul[6], terlihat jelas dari raut wajahnya. Mataku beralih ke Andi, pemuda itu tampak malu, tapi ia tetap melangkah maju, menghampiri Rima dan mengulurkan tangan untuk membantunya turun dari pangkuanku.
            “Ada apa Mas? Kenapa Emon dihias seperti itu?” tanya Rima, Andi hanya tersenyum. Ia berlutut dan mengeluarkan  kotak kecil dari sakunya. Sebuah cincin indah terlihat ketika ia membukanya. Semua mata di Lawang Sewu melihat kearah kedua anak muda itu.
            “Rima Filia, maukah kamu menemaniku selamanya? Menerima cintaku dan menyandang nama Nyonya Andi Rama? “
Kata-kata pamungkas itu keluar, aku tak menyangka bisa menyaksikan momen seperti ini. Rima terpana, ia tak menyangka mendapatkan kata-kata pamungkas itu sekarang, di sini, dan oleh orang yang tak pernah ia bayangkan. Tapi sedetik kemudian gadis itu tersenyum, dn menganggukkan kepalanya. Ia meminta pemuda jenaka itu memasangkan cincin di jemarinya. Semua orang bersorak, aku pun ikut bersuka cita. Walaupun hanya aku yang tahu.
Suara kicauan burung gereja di atas langit menggema, seakan mereka ikut bersorak melihat dua insan mengikat janji selamanya. Bila hidupku masih panjang, bila aku belum dirosok pemerintah ke penjual besi tua kiloan, aku ingin melihat cinta keduaku bahagia. Gadis yang aku cintai setulus hati seperti masinis tua yang sudah tenang di alam sana. Cinta keduaku yang bahagia bersama cinta kuduanya.

Selesai

Cerita ini terinspirasi dari kereta tua di Lawang Sewu yang tampak merana berdiri sendiri tanpa kawan di pusat kota Semarang yang ramai.
Aku berharap, suatu saat nanti ia akan menemukan teman untuk berbagi cerita, dan jatuh cinta untuk kedua kalinya.


[1] Sampun = Sudah.
[2] Yo uwes dienteni wae = Ya sudah ditunggu saja.
[3] Unek-unek = perasaan.
[4] Cah ayu = anak yang cantik.
[5] Inggih = iya.
[6] Jadul = Jaman dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment =D