Selasa, 24 Januari 2012

Juga

Ketika dunia juga ikut menangis
Memandang kamu yang terlalu anggun dalam balut awan mendung
Aku mencoba mengeluarkanmu, juga aku
Karena kita terlalu hanyut dalam balutan lampu yang berkedip lucu
Kemari, genggam jemari
Jadikanlah satu dalam balutan jemari kekalutan sunyi

Without You . . . (dibuat u/ LMCR 2011 walo gag menang)

AKU - TATA
Hujan mulai turun membasahi taman tempatku berada sekarang. Aku memandangi Indra dengan lembut. Berusaha menebak apa kata yang akan keluar dari mulutnya. Tingkahnya yang santai dan acuh membuatku takut. Bukan takut karenanya, tapi aku takut dengan apa yang akan disampaikannya. Waktu seolah berhenti berputar ketika ia mulai membuka suara.
“Sory, Ta. Aku lebih mencintainya dari pada kamu.” Kata Indra tanpa beban. Ia mngatakan maaf padaku. Tapi aku yakin kata itu hanya keluar dari mulutnya, bukan hatinya.
Jantungku seperti berhenti berdetak saat kata-kata itu keluar. Dadaku terasa sesak dan sulit untukku mengambil nafas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa aku kendalikan. Tubuhku lemas, aku terkulai lemah karena tidak mampu menopang semua perasaanku saat ini.
Indra berjalan menjauh dariku. Aku ingin mencegahnya pergi, tapi tubuhku tidak mau merespon. Aku hanya bisa melihat punggunggnya menjauhiku. Dari kejauhan, dengan samar aku bisa melihat siluet tubuh Indra yang memeluk seorang wanita. Aku tahu kalau suatu saat nanti ini akan terjadi padaku. Tapi tetap saja hati ini terasa hancur.
Aku menangis histeris dan berteriak-teriak seperti orang gila. Aku sama sekali tidak perduli dengan tatapan orang yang melewatiku. Aku ingin melepaskan semua beban dan rasa sakit ini. Aku peluk lututku sambil menggigil kedinginan. Aku tahu, tidak seharusnya aku menangisi Indra. Dia sama sekali tidak pantas mendapat air mataku. Aku menjerit lebih keras lagi. Berusaha melupakan semua memoriku bersama Indra.
Tiba-tiba air hujan tidak lagi menetes di tubuhku. Aku medongak dan mendapati Reza memayungiku. Aku heran, kenapa musuh bebuyutanku itu bisa berada disini. Ia berdecak dan bergumam tidak jelas. Lalu ia mengulurkan tangan padaku. Ku tatap matanya, aku kan harus waspada. Dia masih tetap musuhku.
“Hei! Mau sampai kapan loe duduk disitu?.” Seru Reza.
Aku raih tangannya. Ia memasangkan jaketnya padaku. Dia juga menghapus air mataku. Reza menggeggam tanganku dan membawaku pergi dari tempat menyebalkan ini.
Aku menundukkan kepala selama perjalanan. Aku malu memperlihatkan mataku yang bengkak pada Reza. Selain itu, rasa maluku yang tadi hilang sudah kembali lagi. Aku mulai risi pada orang-orang yang dari tadi mengamatiku. Aku tidak heran kenapa dari tadi kami menjadi pusat perhatian. Selain karena aku yang kucel dan seperti orang gila. Reza, orang yang menggandengku saat ini termasuk dalam kategori laki-laki impian. Tentu saja karena tubuhnya yang tinggi berotot, wajahnya yang tampan, kulitnya yang coklat karena terlalu sering bermain bola, juga karena prestasi akademisnya yang oke. Mungkin kalau bukan karena sikapnya yang kasar dan dia bukan senior di kampusku, aku juga akan menjadi pengagumnya sama seperti Rea sahabatku yang sangat memujanya. Tiba-tiba Reza berhenti berjalan, membuatku menabrak punggungnya yang bidang. Lalu ia berbalik memandangiku.
“Loe! Kenapa nunduk terus? Mau cari uang recehan jatuh.” Seru Reza keras. Ajaib, suara Reza tidak kalah dengan derasnya air hujan. Tidak heran kalau ia bisa menjadi bos di kampus. Aku angkat kepalaku dengan malas.
“Apa?.” Jawabku lemas.
“Gitu cara loe ngomong sama bos loe. Inget, loe masih punya hutang sama gue tiga juta.” Kata Reza.
Tuh kan, apa aku bilang. Mana mungkin dia bersikap lembut padaku. Ini kan sudah kebiasaannya membentakku setiap waktu. Aku malas meladeni Reza sekarang. Toh semua yang ia katakan benar. Reza memang bosku dan aku juga berhutng tiga juta padanya. Karena tanpa sengaja aku menabrak mobil barunya. Dan untuk membayarnya aku harus menjadi asisten pribadinya selama satu bulan.
“Mau kemana?.” Katanya lembut ketika kami sampai di depan mobilnya. Aku sempat kaget dengan nada suaranya. Baru kali ini dia berkata lembut padaku. Ajaib sekali dia hari ini, apa mungkin dia salah minum obat ya?
“Gue mau pulang.” Jawabku jujur. Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, ia sudah mulai menjalankan mobilnya. Memang dia tahu alamat rumahku?. Tanya ku bingung dalam hati. Tapi tidak ada lima menit, aku sudah berada di depan rumah. Aku menatapnya heran, mencoba meminta penjelasan padanya. Tapi dia malah membuang mukanya dan menyuruhku masuk ke rumah.
Tiba-tiba Ibuku keluar dari balik pintu. Dengan raut mukak marah Ibu memandangiku dari atas sampai bawah. Nyaliku sudah mengecil saat ibuku menuangkan kemarahannya.
“Dasar anak nggak berguna! Apa yang kamu lakukan di luar sana, heh! Aku sudah bekerja keras untuk menghidupi mu. Kamu malah keluyuran nggak jelas seperti ayah mu.” Serunya lantang. Yah, aku memang sudah terbiasa dimarahi olehnya. Aku tahu Ibu tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya stres menghadapi kelakuan ayahku yang seenaknya sendiri.
“Maaf, Bu. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” Kataku takut. Aku sama sekali tidak berdaya menghadapi kemarahannya.
“Pergi sana! Keluar dari rumahku. Aku nggak mau melihat muka mu lagi!.” Kata Ibu keras. Lalu ia melempar tas kearahku. Hal ini sering terjadi padaku. Aku sudah biasa terusir dan kembali lagi besok. Setidaknya seminggu dua kali aku melakukan rutinitas ini. Tapi aku sempat berharap kalau hal ini tidak terjadi sekarang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Karena aku takut penyakit darah tinggi Ibuku kambuh. Aku bergegas memungut tas dan pergi dari rumah. Karena hal ini sering terjadi, aku tahu harus pergi kemana. Tubuhku mulai menggigil. Seharusnnya tadi aku berganti baju dulu. Aku melihat mobil Reza dari kejauhan. Ternyata dia melihat semua kejadian yang aku alami. Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Gue nggak nyangka nyokap loe sampai segitunya.” Serunya heran. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat seorang anak diusir oleh ibunya sendiri.
“Nggak. Nyokap gue baik kok. Gue rela melakukan apapun yang dia mau. Tapi selama ini gue cuma buat dia susah. Makanya loe jangan bentak-bentak gue, gue udah kenyang sama yang begituan di rumah.” Candaku. Aku memang rela melakukan apapun untuk Ibuku.
“Makanya loe jangan nyebelin. Loe mau kemana?.” Balasnya jutek. Tapi aku bisa melihat senyumnya.
“Anterin gue ke rumah Rea ya, Pak Supir.” Candaku lagi. Hahaha, dia hanya bisa tersenyum padaku.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rea. Rumah Rea hanya berjarak beberapa blok dari rumahku. Aku sudah hampir turun, ketika aku melihat motor Indra berhenti di depan rumah Rea. Reza menarikku masuk ke dalam mobilnya. Aku mematung ketika Indra mencium Rea. Jadi wanita yang aku lihat tadi adalah sahabatku sendiri. Hatiku hancur lebur. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri. Air mataku mengalir lagi. Aku memandang Reza, memintanya untuk segera membawaku pergi dari sini. Dan tiba-tiba darah keluar dari hidungku dan kegelapan mulai menguasaiku.
***
Aku mengerjapkan mataku perlahan. Kepalaku terasa pening dan berat. Ku rasakan selang infus di tanganku. Aku benci rumah sakit. Aku melihat Reza berdiri di sampingku, raut wajahnya menggambarkan kalau ia sangat khawatir. Seorang dokter menghampiri kami. Ia terlihat tegang melihat catatan kesehatanku. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Seumur hidupku, aku tidak pernah sakit yang serius atau bahkan pingsan seperti ini.
“Dokter, sebenarnya saya sakit apa?.” Tanyaku. Ada rasa takut di hatiku.
“Saya belum tahu pasti. Kamu harus melakukan beberapa pemeriksaan.” Kata dokter padaku.
“Kalau begitu lakukan pemeriksaan lengkap sekarang, biar saya yang menanggung semua biayanya.” Kata Reza di sampingku, sepertinya dia lebih penasaran dari pada aku.
Ternyata pemeriksaan itu tidak terlalu memusingkan seperti perkiraanku. Dalam dua jam aku bisa melihat hasil laboratoriumnya. Aku hanya harus merelakan darahku diambil dengan jarum yang mengerikan itu. Reza menemaniku menunggu hasil testnya. Setelah menunggu lumayan lama, dokter memanggil kami ke ruangannya. Reza membantuku berjalan, ia dengan senang hati membawakan kantung infusku.
“Apa hasilnya, Dok? Tata sehat kan?.” Tanya Reza ketika kami sampai di ruangan dokter.
“Maaf, sepertinya tidak. Menurut hasil laboratorium, Tata mengidap kangker sumsum tulang belakang stadium akhir.” Kata dokter itu. Aku melihat raut wajahnya, bukan wajah seseorang yang sedang berbohong atau bercanda. Aku melihat Reza, dia juga sama kagetnya denganku.
“Kangker sumsum tulang belakang stadium akhir?.” Kataku memastikan. Mungkin saja aku salah mendengar kan.
“Benar.” Jawab dokter itu mantap. Tidak bisakah dia berbohong sedikit, dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku. Reza memandangiku dengan wajah khawatir. Aku mencoba mengolah semua kejadian hari ini. Di putuskan oleh pacar, di usir oleh Ibuku, dan di khianati oleh sahabatku sendiri. Sekarang harus bertambah dengan penyakit kangker. Apa yang sudah ku lakukan sampai tuhan menghukumku seperti ini. Aku mencoba menerima kenyataan, berusaha tegar agar tidak menangis.
“Berapa sisa umurku?.” Tanyaku pada dokter. Ku rasakan Reza menegang di sampingku.
“TATA!.” Bentak Reza. Sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaanku.
“Apa? Bukannya ini pertanyaan yang lumrah. Gue mesti tahu berapa sisa umur gue.” Kataku berusaha tegar, padahal dalam hati aku ingin bersandar dan menangis di bahunya.
“Saya bukan tuhan yang berhak memfonis umur manusia. Tapi kalau melihat keadaan mu saat ini, saya hanya bisa memperkirakan sekitar tiga atau empat bulan lagi.”
Reza terlihat tidak menyukai jawaban dokter. Ia menyeretku keluar. Membawaku ke taman rumah sakit yang gelap. Tiba-tiba ia memelukku erat.
“Nangis aja kalau loe mau nangis. Mumpung di sini nggak ada orang.” Katanya. Aku menangis di pelukannya. Menumpahkan semua yang terjadi hari ini di bahunya. Aku merasa putus asa, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Jangan beri tahu siapapun tentang penyakit gue. Termasuk ke nyokap gue.” Pintaku. Reza sempat terkejutdan menolak permintaanku. Tapi akhirnya setelah aku memohon ia menyetujuinya.
Setelah itu hari-hariku berubah. Aku masih tetap keluar dari rumah, sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah setiap aku pulang kuliah, Reza selalu menemaniku menjalani perwatan kangker. Dia juga yang menebus obat-obat mahal itu. Ibuku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku juga mengambil keputusan untuk tidak membenci Rea. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaikku.
Seperti saat ini, aku dan Reza akan pergi ke rumah sakit. Namun mataku menangkap sesatu. Aku melihat Rea menangis di bawah pohon. Aku meminta Reza menungguku di mobilnya sebentar, sementara aku menghampiri Rea.
“Ada apa, Re?.” Tanyaku perhatian. Rea terkejut melihatku.
“Ngapain loe di sini?.” Balasnya sinis. Aku mencoba bersabar, seharusnya yang marah kan aku.
“Gue penasaran aja, kenapa loe nangis. Jangan bilang kalau itu karena Indra.” Kataku asal. Aku sempat khawatir melihat ekspresi wajah Rea yang seperti ingin memakanku. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ia malah memelukku sambil menangis.
“Maafin gue, Ta.” Serunya sambil menangis. Aku tidak mampu menahan air mata lagi. Alhasil aku juga ikut menangis.
“Gue maafin loe udah lama, Re. Loe itu sahabat terbaik gue. sekarang loe cerita, kenapa loe nangis di sini?.” Selidikku. Rea terlihat takut menceritakannya. Tapi setelah aku mendesaknya, akhirnya Rea mau menceritakan semuanya.
“Gue hamil, Ta. Gue hamil, tapi Indra nggak mau tanggung jawab.” Jelasnya sambil menangis. Aku seperti tersambar petir di siang hari. Tidak ku sangka kalau Rea menjadi korban yang lebih parah dari pada aku. Tanpa berfikir panjang aku menarik Rea untuk menemui Indra. Sangat tidak adil kalau Rea hanya menanggungnya sendiri. Aku dan Rea menuju tempat Indra biasa menghabiskan waktu istirahat siang. Aku melihatnya duduk dengan santai dan menggoda mahasiswi baru yang lewat.
“Loe ikut gue.” Perintahku padanya. Indra hanya tersenyum acuh. Emosiku yang tinggi dan akal sehatku yang mulai tidak bekerja secara normal membuatku menarik Indra ke lorong kampus yang sepi. Rea yang mengikuti di belakang hanya diam seribu bahasa.
“Loe mesti tanggung jawab. Rea hamil, Dra.” Kataku lembut. Aku tahu kalau menghadapi Indra dengan amarah, tidak akan mempan.
“Tanggung jawab? Mungkin aja itu bukan anak gue. Loe kan nggak tahu apa kelakuan dia yang sebenarnya.” Jawabnya. Amarahku memuncak lagi. Kutampar pipi kirinya dengan keras.
“Harusnya gue lakuin ini dari dulu. Dan satu lagi.” Lalu aku menampar pipi kanannya.
“Ini buat loe yang udah kurang ajar sama Rea.” Lanjutku lagi. Ku lihat raut wajahnya yang berubah merah karena marah. Ia mengayunkan tangan untuk memukulku. Tapi Reza berhasil mencekalnya. Wow, Reza selalu bersikap seperti supermanku akhir-akir ini.
“Cowok yang berani mukul cewek itu, BANCI!.” Kata Reza. Lalu tanpa bisa aku sadari, mereka menjelma sebagai Muhamad Ali dan Cris Jhon. Aku coba memisahkan mereka namun karena tubuhku yang mungil, aku tidak bisa menyentuh mereka. Salah-salah malah aku yang terkena tinju dari mereka.
“CUKUP!.” Teriakku lantang. Mereka berdua berhenti seketika dan menoleh sesaat padaku. Tapi hal itu hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu mereka menuju ronde kedua. Ku rasakan darah mengalir dari hidungku. Rea yang sadar dengan keadaanku langsung berteriak. Seketika itu juga aku melihat Reza melepaskan cengkraman tangannya dari Indra dan menghampiriku dengan wajah khawatir.
“Ta, loe nggak papa? Loe pasti nggak minum obat.” Kata Reza khawatir. Aku menggelengkan kepala tanda bahwa yang dikatakan Reza tidak benar. Aku selalu meminum obatku tepat waktu.
Tiba-tiba Indra mengarahkan tongkat baseball padaku. Dan detik berikutnya aku melihat Reza berada di depanku. Setelah itu aku melihat bercak darah di lantai, tapi bukan darahku. Bukan karena mimisan yang sedang aku alami. Aku menepuk punggung Reza pelan, tapi tubuh Reza limbung ke arahku. Dan aku melihat wajah Reza yang berumuran darah.
***
“Reza mengalami kebutaan permanen.” Kata dokter padaku setelah beberapa hari kami menginap di rumah sakit. Aku memandang wajah Reza yang hampir seluruhnya tertutupi oleh perban. Aku tidak bisa membaca raut wajahnya.
“Satu-satunya cara adalah dengan donor kornea. Saya sudah mendaftarkan nak Reza ke bank kornea. Jadi sabar saja menunggu pendonor yang cocok dengan kamu.” Lanjut dokter. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Donor kornea pasti membutuhkan waktu yang lama. Aku memandangi Reza lagi, dia masih saja tanpa ekspresi. Aku mendekati Reza, menggenggam tangannya.
“Za, gue…” Kata-kataku tercekat, keadaannya yang seperti ini kan karena aku. Aku merasa sangat bersalah dengannya. Tangan Reza mulai meraba mencari wajahku. Tubuhku terasa tersengat listrik 1000 volt ketika jemarinya menyentuh pipiku. Oh tuhan, apa benar aku jatuh cinta pada Reza. Jantungku berdegup lebih cepat saat Reza mulai berbicara.
“It’s Oke. No problem. Gue nggak papa, Ta.” Kata Reza sambil tersenyum. Ah, rasanya aku mau pingsan melihat senumannya itu. Tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah lagi. Untung saja Reza tidak bisa melihatnya. Dan detik berikutnya, aku sudah dikuasai oleh kegelapan.
Saat aku sadar dari pingsan, ku lihat Reza duduk dengan kursi roda di sampingku. Aku melihat keadaan sekitar. Rea dan Ibuku berdiri di samping dokter sambil menangis. Aku heran, kenapa Ibuku mengetahui kalau aku ada di sini. Dokter menyuruh Reza dan Rea pergi. Reza bersikeras ingin selalu ada di sampingku. Aku sangat senang mendengarnya. Tapi belum sempat dokter memarahinya, Rea yang tanggap langsung mendorong kursi roda Reza keluar dari kamarku. Sekarang hanya tersisa aku dan Ibuku, dokter memulai pembicaraannya.
“Kangker mu sudah menyebar. Kemo terapi dan obat tidak akan bisa menghambatnya lagi. satu-satunya solusi adalah dengan cangkok sumsum tulang belakang. Aku sudah mengecek sumsum tulang Ibu mu, dan hasilnya cocok. Sekarang kami hanya menunggu keadaan mu stabil untuk dapat dioperasi.” Jelas dokter panjang lebar. Aku menghela nafas panjang.
“Tapi sebelumnya saya punya satu permintaan.” Kataku. Ibuku dan dokter terkejut mendengarnya. Namun menit berikutnya mereka bisa mengerti apa yang aku rasakan.
“Yang pertama, katakan pada Reza kalau aku akan berobat ke Swis dan akan kembali beberapa bulan lagi. Yang kedua, jika nanti operasiku gagal. Aku ingin menyumbangkan korneaku pada Reza, dan organ tubuhku yang masih berfungsi dengan baik kepada orang yang membutuhkannya.” Pintaku. Ibu berkata kalau aku tidak boleh pesimis. Tapi aku sudah menetapkan hati, aku tidak mau melihat orang menderita penyakit sepertiku. Setidaknya aku bisa berguna untuk orang lain setelah aku meninggal. Dan mereka menyetujuinya.
***
AKU - REZA
“Za, besok gue berangkat ke Swis.” Kata Tata padaku. Andai saja aku bisa melihat wajahnya saat ini, tapi itu tidak mungkin. Ku rasakan air matanya menetes di tanganku. Ku genggam tangannya. Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi untuk sekarang ini aku tidak pantas. Dengan keadaanku yang tidak dapat melihat indah wajahnya, dan dia yang sedang berjuang dengan penyakitnya membuatku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku. Tiba-tiba kurasakan Tata memelukku sambil menangis. Aku tidak berani membalas pelukkannya.
“Ada apa, Ta? Loe kenapa?.” Tanyaku.
“Tunggu gue ya. Nggak lama kok, jadi loe tunggu gue.” Jawab Tata dambil mempererat pelukkannya. Karena sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi, akhirnya aku membalas pelukkannya.
“Gue cinta sama loe, Za. Gue cinta sama loe. Jadi tunggu gue.” Kata Tata tiba-tiba. Aku terkejut mendengar perkataannya itu. Aku memeluknya rebih erat lagi. Darahku berdesir, jantungku begejola riang. Dia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Gue juga, Ta. Gue cinta sama loe sejak pertama kali kita ketemu.” Jawabku senang. Kalau saja aku bisa melihat, aku pastikan kalau dia pasti tersenyum sekarang. Membayangkan senyumnya yang seperti malaikat membuatku seperti tersengat listrik. Dan waktu berikutnya, aku dan Tata hanya diam seribu bahasa. Hanyut dengan perasaan cinta kita, dan ku rasakan ia mulai tertidur di pelukanku.
***
Hari ini tepat satu bulan Tata pergi ke Swis. Aku duduk di bawah pohon cemara di kebun rumahku. Aku masih belum mendapatkan pendonor untuk korneaku. Jadi sekarang aku harus berusaha menghafal lingkungan sekitarku dan belajar menggunakan huruf broiles. Ku dengar Indra sudah mendekam di penjara setelah beberapa minggu menjadi buronan. Ringtone handphoneku berbunyi, dan suara dokter Herman langsung menyambutku.
“Saya ada berita bagus untuk kamu. Kamu sudah dapat pendonor yang cocok.”
Aku melompat kegirangan. Bersorak riang seperti orang gila. Aku ingin memberitahu hal paling membahagiakan ini pada pacarku tersayang, Tata. Aku hubungi nomor handphonenya di Swis, namun tidak ada jawaban. Yah, mungkin dia masih menjalani perawata pasca operasi. Aku menunggu hari operasiku dengan gembira. Aku sudah mengirimkan email pada Tata kapan perbanku akan dibuka. Aku ingin orang pertama yang aku lihat adalah dia.
***
Hari ini adalah hari perban mataku di buka. Orang tuaku yang tinggal di London memberikan kejutan dengan datang ke Indonesia untuk melihat momen ini. Rea, sahabat Tata juga ada disini. Aku kecewa mendengar kabar kalau Tata tidak bisa datang kemari. Tapi aku maklum, dia harus sehat agar kami bisa selalu bersama. Nanti aku saja yang memberinya kejutan. Dokter mulai melepas perban di mataku. Ia menyuruhku mengerjapkan mata perlahan. Setelah itu aku dapat melihat cahaya pertama di hidupku.
Ayah dan Bundaku tersenyum senang di sampingku. Ku lihat Rea juga tertawa senang, namun menit berikutnya ia menangis. Aku bingung melihat reaksinya, ini membuatku penasaran.
“Gue mau nelpon Tata.” Kataku senang. Dia harus mendengar dari sana betapa bahagianya aku sekarang.
“Gue mau ngasih ini, Tata nitip ini sebelum berangkat. Dia tahu kalau hari ini akan tiba.” Kata Rea sambil menangis. Aku membuka surat itu.
“Untuk Rezaku. Maaf aku tidak bisa berada di samping mu saat ini. tapi aku akan selalu berada di sisi mu. Selalu kamu lihat. Karena dunia yang kamu lihat sama dengan yang aku lihat. Cintaku untukmu selalu.”
Aku tersenyum membaca surat Tata. Aku tahu pasti dia sedang bersembunyi untuk memberi kejutan padaku.
“Mana dia?.” Tanyaku penasaran.
“Tata udah meninggal, Za. Operasinya gagal. Dia yang jadi pendonor buat loe.” Kata Rea. Ku rasakan seluruh tubuhku mati rasa. Dan detik berikutnya aku sudah menangis histeris.
***
Aku bersimpuh di atas pusaran Tata. Aku membawakan dia seikat bunga lili kesukaannya. Aku tersenyum dan meninggalkan sepucuk surat untuknya.
“Untuk Tataku. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan. Tanpa cintamu aku tidak akan mampu bertahan. Aku akan hidup dan akan terus mencintaimu. Membantu melihat dunia lewat mata yang kamu berikan. Walau tanpa kamu ada di sampingku.”