Demi Kamu
Oleh
: Desy Ratna Christiyani
“Kamu
nggak tahu apa yang kamu katakan,
jadi tolong jaga mulut kamu,”
kata Cita. Matanya merah
berair. Ia sedang memandang marah pada seorang cowok berpostur tinggi. Mungkin
untuk sebagian wanita
di sekolahnya, Ara
adalah pangeran. Semua mata memandang mereka berdua. Ara hanya tersenyum
mendengar perkataan Cita.
“Jadi begini cara bicara murit teladan? Orangtua kamu nggak pernah ngajarin
tata karma?” kata Ara dengan santai.
“Jangan pernah kamu hina orangtuaku.
Kamu sama sekali nggak punya hak untuk itu,”
kali ini air mata Cita
menetes.
“Kamu cuma seorang anak pengusaha kaya yang hanya
bisa manfaatin fasilitas dari orangtua. Tahu apa kamu?” lanjutnya lalu pergi
meninggalkan Ara dan seisi kelas yang terdiam
menyaksikan mereka berdua. Sedangkan Ara,
darahnya mendidih mendengar perkataan Cita
dan ikut meninggalkan kelas.
***
Kepala Ara terasa pening. Ia masih
saja memikirkan perkataan Cita tadi pagi. Padahal dia sengaja pergi ke sebuah club
untuk melupakannya.
Mengingat kejadian pagi tadi, amarahnya kembali memuncak. Ia berjanji akan
membalas Cita. Sambil berpikir untuk mencari cara membalas Cita, Ara menenggak
minumannya. Tapi setelah itu ia malah berhalusinasi tentang Cita. Cita yang
memakai baju pelayan
yang super mini, menanggalkan kaca matanya dan menyapukan make
up yang tipis pada wajahnya yang membuat ia terlihat
menawan.
“Aku
mabok ya? Perasaan aku
nggak minum alkohol?” katanya
sambil menggelengkan kepala mencoba memastikan apakah yang dilihatnya itu
benar.
Setelah benar-benar yakin kalau yang dilihatnya
bukan halusinasi atau fantasinya belaka, Ara tersenyum senang. Akhirnya ia
mendapatkan cara untuk membalas Cita. Ara menghampiri Cita yang sedang
membersihkan meja. Lampu blitz dari
kamera telepon genggam Ara
berpendar dan
tanpa permisi ia memotret Cita. Tentu saja Cita kaget dan tanpa sengaja
menjatuhkan gelas yang dibawanya.
“Kamu ngapain di sini?” Tanya Cita was-was. Terlihat
dengan jelas kalau ia ketakutan dimarahi bos karena memecahkan empat buah
gelas.
“Ngapain?
Kamu
sendiri ngapain?” balas
Ara.
“Aku…,”
kata Cita terbata. Cita
tahu kalau dia sedang tertangkap basah dan tidak
bisa menyangkal. Jadi dia memilih diam dan mulai membersihkan pecahan gelas
yang beserakan di lantai.
“Aku
bisa kasih foto ini ke kepsek[1]. Dan beasiswa
penuh yang kamu
dapat bisa hilang dalam sekejap,” kata Ara tiba-tiba. Cita
langsung menghentikan semua kegiatannya. Ia menatap mata Ara tajam dan dengan
keras menampar pipi kanan Ara. Manager
club
yang menyaksikan kejadian itu dari awal langsung menghapiri mereka.
“Kalau kalian punya masalah, tolong selesaikan di
luar. Dan kamu Cita,”
kata Manager itu lalu menghadap kearah Cita
yang menunduk. “Kamu tidak
hanya sekali memecahkan gelas.
Sekarang saya tidak bisa memberi toleransi lagi. Setelah kamu bereskan
pecahannya, silakan keluar.”
Mendengar itu, Cita langsung pasrah. Dengan cekatan
ia membersihkan pecahan gelas
dan menghilang di dapur restoran. Sedangkan Ara tersenyum dan pergi meninggalkan
club
itu.
Sebenarnya Ara tidak benar-benar pergi. Ia menunggu
Cita keluar dari club. Selang beberapa menit,
Cita keluar. Dari kejauhan, Ara mendengar percakapan telepon Cita dengan
seseorang. Dengan seksama ia mendengarkan, akhirnya dia mendapatkan senjata
lagi.
***
Seperti biasanya, istirahat siang
ini matahari dengan semangat memancarkan cahayanya.
Kantin sekolah penuh sesak dengan siswa yang berteriak meminta
untuk dilayani dengan cepat.
Sebenarnya Cita juga lapar, namun ada buku yang harus dibacanya. Makan di
perpustakaan kan
dilarang. Makanya ia memilih duduk dan
membaca buku di atap sekolah yang sunyi. Angin yang bertiup
sepoi-sepoi sempat membuat Cita terkantuk. Untuk meghilangkan kantuknya, Cita
memilih membaca buku dengan berdiri di balkon atap sambil sesekali melihat
teman-temannya yang sedang asik memakan batagor. Seulas senyum tersungging di
wajah Cita ketika temannya Mizzy melambaikan tangan kearahnya. Dengan bahasa isyarat Mizzy mengajak Cita bergabung.
Namun Cita membalasnya dengan gelengan kepala dan menunjukan buku tebal yang
sedang ia baca. Ketika Cita berbalik untuk duduk lagi, tiba-tiba pintu atap
terbuka. Ara datang dengan senyum yang tidak bisa dibaca maksudnya.
“Ngapain ke sini?” tanya Cita.
Ara hanya terdiam dan tersenyum sinis. Dengan santai
Ara mengambil alih bangku tempat duduk Cita. Karena Cita malas meladeni Ara, ia
memilih pergi dan bergabung dengan Mizzy. Tapi sebelum Cita mencapai pintu, Ara
angkat bicara.
“Jadi asistenku,” seru Ara. Cita hanya
bengong dan tertawa kecil mendengarnya.
“Dalam mimpi kamu,” jawab Cita lalu
melangkah pergi. Tapi tba-tiba tangan Ara mencekalnya. Membuat tubuhnya
berbalik menghadap Ara.
“Kamu
nggak punya hak untuk nolak,”
kata Ara tajam. Ia
mengeluarkan selembar foto dari saku kemejanya. “Aku masih punya nyawa kamu,” katanya lagi.
“Nggak mempan. Silakan saja, aku masih bisa bekerja untuk biaya
sekolahku,”
sangkal Cita. Jujur saja
Cita mulai was-was. Tapi ia berusaha menjaga image-nya
untuk tetap tenang di depan Ara.
“Oh ya? Aku punya satu lagi,” kata Ara dengan percaya
diri. Ia lalu mengeluarkan handphone-nya
dan memutar sebuah rekaman. Beberapa detik kemudian terdengar suara ibu Cita.
“Oh,
iya. Cita memang kerja di café. Tapi tante nggak tahu di mana tempatnya.
Memangnya kenapa adik cari putri saya?.”
“Aku bisa dengan mudah bilang ke ibu kamu kalau sebenarnya anak kesayangannya itu
nggak kerja di café tapi di club malam,”
kata Ara. “Kalau kamu nolak, kamu nggak hanya kehilangan beasiswa
tapi juga bisa diusir dari rumah,”
lanjut Ara lalu melepaskan cekalannya.
“Tenang. Aku masih punya hati. Aku tetap gaji kamu dua kali lipat dari
gajimu di club malam itu.” Kata Ara lalu
melangkah pergi meninggalkan Cita yang terdiam.
Kali ini Cita mengaku kalah. Ia
harus menuruti semua yang diperintahkan Ara padanya. Mulai hari itu, ia menjadi
bulan-bulanan Ara.
Mulai dari menjadi pesuruh mengatur jadwal kencan dengan pacarnya yang banyaknya minta ampun.
Mengerjakan semua tugas sekolah, sampai hal-hal yang tidak masuk akal seperti mengepel lapangan
basket dan lainnya.
Karena lelah dengan semua kelakuan Ara, Cita
berencana membalasnya. Dengan sengaja ia mengontak semua pacar Ara dan mengajak
kencan secara bersamaan. Setelah mengantarkan bunga mawar pesanan Ara, Cita
bergegas pulang sambil tersenyum
senang. Tapi ternyata Ara mengetahuinya dan
malah mengajak Cita, lebih tepatnya memaksa Cita ikut bersamanya. Alhasil seisi
foodcourt melihat mereka. Tiba-tiba
seorang cewek menyapa mereka.
“Ara, ngapain? Aku udah nunggu kamu dari tadi,” seru cewek itu. Bisa dikatakan selera cewek Ara
termasuk TOP 10 di setiap sekolah. Belum sempat Ara angkat bicara, muncul lagi
cewek yang menyapanya. Sekitar sepuluh remaja
cantik mengerumuninya. Setelah itu Ara baru
angkat bicara.
“Hai semua. Ara
mau bikin pengakuan,”
kata Ara mantap. Ia
menggenggam tangan Cita. Cita salting[2] sekaligus malu,
ia berusaha melepaskannya.
“Ara
udah ngeduain kalian. Em salah, sepuluhin malah. Sekarang aku mau tobat, ada wanita yang benar-benar Ara sayang. Aku harap kalian bisa mengerti. Sekarang kita
cukup sampai disini. Aku
ingin selalu bersama
dia,” lanjut Ara serius sambil
menatap Cita.
Cita hanya
bisa bengong melihat
raut wajah Ara yang serius. Ini anak pasti dapat piala
oscar kalau jadi aktor, seru Cita dalam hati. Belum sempat kembali ke dunia
nyata, tiba-tiba Ara menyeretnya berlari . Butuh sedetik untuk
Cita memahami situasinya. Ia melihat kebelakang dan menyaksikan semua pacar Ara mengejar mereka
dengan wajah geram.
“Tamatlah riwayatku,” seru
Cita sambil terus berlari bersama Ara. Sedangkan Ara hanya tertawa mendengar
kata-kata Cita.
***
Siang ini matahari sedang bersemangat menampilkan
sinarnya. Kali ini Sang
Matahari sedang
mengerjai anak-anak basket yang sedang latihan. Cita duduk di samping Ara yang sedang
istirahat. Tentu saja sebagai asisten Cita harus selalu dekat dengan Ara. Cita
mendesah dalam lamunannya, membuat Ara penasaran.
“Beli minum
sana!” perintah Ara yang membuyarkan lamunan
Cita. Cita yang sedang kesal malah membalas tatapan Ara dengan tajam.
“Apa? Kenapa plototin aku?” Tanya Ara tidak mengerti.
“Ini semua gara-gara kamu. Gimana kalau mereka
sampai kemari. Ah, bisa jadi dadar gulung
aku, mana sanggup aku ngelawan mereka semua?
Mereka badannya aja yang langsing, tenaganya kayak kuda,” desah Cita. Ara hanya
mengamati wajah Cita yang polos. Ternyata
manis juga,
Batinnya.
“Kamu
pikir aku nggak. Aku kemarin kena cakar. Kamu enak dimaki-maki doang.
Lagian siapa suruh ngerjain aku.
Sekarang bikin ulang jadwalku,
sepertinya aku mau rehat
sebulan dua bulan. Dan cepetan beli minum
sana! Yang dingin,” kata Ara tepat di muka
Cita. Cita hanya mendengus kesal. Ia lalu beranjak mengambil tasnya dan
melangkah menuju kantin sekolah.
Di kantin, Cita sempat beristirahat sebentar.
Sambil memilah minuman dingin pesanan Ara, ia mengambil handphone-nya
dan menelepon Mizzy.
“Lama banget
angkatnya?” seru
Cita ketika telepon di sebarang diangkat dan
Mizzy hanya tertawa.
“Sory
deh, lagi
panggilan alam. Ada apa? memang
nggak dimarahin majikan kamu?”
tanya Mizzy heran. Sejak
beberapa minggu lalu tiba-tiba Cita datang padanya dengan tampang kesal. Ia
bercerita kalau ia harus menjadi asisten pribadi Ara. Menurut Mizzy itu sih berkah,
karena bisa berduaan sama
cowok paling ganteng
di sekolah.
“Dia lagi latihan
basket di lapangan. Aku disuruh ke kantin beli minum,” kata Cita menjelaskan.
“Eh, tugas dari Bu Nami udah di buat belum?
Tenggatnya lusa,
padahal aku masih
bingung mau buat cerita
apa,” curhat[3] Mizzy.
“Ini ada yang lebih darurat dari tugas Bu Nami,”
kata Cita lalu mendesah.
Cita berbalik menuju lapangan, tuannya bisa
marah besar kalau dia terlambat mengantarkan minumannya. Namun
tiba-tiba ada sekerumunan wanita
yang mencegatnya.
“Mau apa kalian?” Seru Cita gemetaran. Ia memegang
erat handphone-nya, sedangkan Mizzy
mendengarkan semuanya dari seberang telepon.
“Jadi kamu
yang buat Ara ninggalin kita,”
kata salah seorang dari
mereka sambil mengamati Cita dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Seret dia!”
seru wanita itu lagi. Beberapa wanita yang ada disampingnya
langsung mencekal lengan Cita. Belum sempat Cita berteriak meminta tolong, mulutnya sudah dibekap. Handphone, minuman dan tas Cita dibuang
begitu saja. Sedangkan Cita diseret menuju ke
tempat yang tersembunyi.
Mizzy yang mendengarkan semuanya berseru memanggil
Cita namun tidak ada jawaban. Ia panik dan tanpa berpikir panjang menelepon si akar masalah.
***
Ara berlari ke arah kantin sekolah dengan
tergesa-gesa. Ia baru mendapat telepon dari Mizzy kalau Cita diculik mantan-mantannya.
Setelah sampai di kantin, ternyata tidak ada orang. Ia berlari lagi untuk menemukan
Cita. Ketika melewati sebuah gudang
ia melihat tas dan handphone Cita
berserakan di depannya. Dengan cekatan Ara memeriksa gudang itu. Untung saja Ara
bisa menemukan Cita di sana. Ia melihat Cita dikelilingi lebih dari sepuluh remaja wanit yang notabene adalah mantan pacarnya.
Wajah Cita terlihat sangat ketakutan. Ara
membelah kerumunan itu dan memeluk Cita.
“Kamu
nggak papa?” Tanya Ara pada Cita. Tapi yang ditanya hanya menangis dalam diam
sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Kalian ngapain disini?
Aku bilang kita udah
selesai. Ara
juga udah minta maaf,”
kata Ara tegas. Ia
memandang satu persatu wajah didepannya. Sambil memasang wajah bersalahnya ia
melanjutkan ucapannya.
“Aku
yang salah disini. Dia nggak ada hubungannya. Aku cinta dia dan mau melindungi
dia. Ara mohon jangan ganggu
dia. Biar aku
saja yang nanggung semua
kemarahan kalian.” Serunya. Seorang wanita
maju dan berhadapan langsung dengan Ara.
“Ara
mau nanggung semuanya. Makan nih.” Kata wanita
itu lalu melayangkan tamparan di pipi kanan dan kiri Ara. Setelah itu semua wanita yang ada di sana melakukan hal yang
sama pada Ara. Bahkan ada yang sampai meninju muka Ara beberapa kali. Setelah
selesai, Ara tersungkur
ke tanah. Cita memapahnya duduk di kursi terdekat.
“Kamu nggak papa?” tanya Cita khawatir.
“Nggak papa gimana? Mukaku bengkak. Entah berapa
tamparan yang aku
terima hari ini gara-gara kamu!”
seru Ara kesal sambil
memijat pippinya yang panas.
“Lagian suruh siapa cari perkara sama mereka. Kenapa
kamu selalu punya pacar
yang bar-bar. Heran deh,” balas Cita kesal. Ara
hanya menggeram, ia malas meladeni Cita.
“Ayo bangun, masih kuat jalan kan. Tunggu aku di atap,
biar aku obatin luka kamu,” kata Cita sambil membantu Ara berdiri.
Ara menurut, ia berjalan ke atap sekolahnya dan menunggu
Cita di sana. Cita muncul membawa kotak P3K di tangannya yang kurus. Cita
tersenyum melihat Ara yang tertidur, karena tidak tega membangunkannya Cita
mendekati Ara perlahan. Cita mengusapkan alkohol di luka Ara yang berdarah. Ara
terbangun dari tidurnya ketika Cita menyentuh lukanya yang terasa perih.
“Tahan sedikit lagi, sebentar lagi juga selesai,” kata
Cita lembut.
Ara terdiam memandangi wajah Cita yang serius. Dia
tersenyum mengingat apa yang baru saja ia lakukan bersama Cita.
“Ngapain senyum-senyum sendiri?” tanya Cita tiba-tiba
yang membuat imajinasi Ara kabur seketika.
“Nggak. Nggak ada apa-apa, cuma inget sama kejadian
tadi,” jawab Ara jujur.
“Iya, aku sempat kaget lihat kamu tiba-tiba datang. Aku
salut dengan akting kamu tadi. Aku berani taruhan, kamu pasti dapat piala oscar
kalau jadi aktor Hollywood,” kata Cita sambil tertawa kecil setelah mengoleskan
salep ke wajah Ara.
“Aku tahu, Chris Evans mungkin lewat,” kata Ara
menyombongkan dirinya sendiri. Cita tertawa mendengarnya.
“Tapi tadi aku sama sekali nggak akting, jadi Chris Evans
bisa tenang,” kata Ara yang membuat tawa Cita terhenti seketika.
“Aku benar-benar khawatir sama kamu, aku panik cari kamu
kemana-mana. Aku nggak akan maafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu
sama kamu,” lanjut Ara.
“Ara, jangan bercanda. Nggak lucu tahu!” Seru Cita gugup.
Jantungnya berdegup dua kali lebih hebat dibandingkan saat dia bertemu dengan
Edward Cullen di mimpinya.
“Ah, pasti kepala
kamu kenapa-kenapa deh, gara-gara kena tamparan mereka kamu jadi agak sakit,”
kata Cita sabil memeriksa kepala Ara. Ia berasumsi kalau Ara pasti sedang
terena shock. Ara mencekal tangan
Cita dan menggenggamnya.
“Kamu pikir degub jantung ini bercanda,” kata Ara sambil
memasang wajah serius. Cita gelagapan dan terdiam saat tangannya menyentuh dada
Ara. Cita merasakan kalau degub jantung Ara sama capatnya dengan degub
jantungnya yang entah kenapa dari tadi berubah cepat. Wajah Cita bersemu merah,
ia ragu dengan pikirannya. Apakah ini cinta? Tidak mungkin, Ara pasti sedang
mengerjainya. Tapi degub jantung itu? Apakah debar jantung bisa dibuat-buat?
Debat Cita dalam hatinya.
Sejenak atap sekolah terasa sepi. Ara dan Cita tenggelam
dalam pikirannya masing-masing. Wajah Cita memerah ketika Ara mengeluarkan
kartu As-nya. Ara berkata dengan mantap,
“Mungkin aku sudah sering mengatakan kata cinta, dan
mungkin kamu nggak percaya. Tapi berikan aku kesempatan untuk membuat kamu
merasakan makna dari kata-kata itu. Aku cinta sama kamu, entah sejak kapan.”
Cita terdiam mendengar pernyataan cinta Ara. Ia masih
belum percaya kalau Ara menyatakan cinta padanya. Cita mengingat-ingat kejadian
lampau yang ia alami karena Ara. Bertemu di club
malam sampai saat Ara menolongnya dari kerumunan mantan pacarnya yang akan
melumat Cita. Karena ini pertama kalinya Cita mendapat pernyataan cinta, dia
tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi yang pasti ia juga merasakan sesuatu yang
berbeda saat bersama Ara. Ia merasa malu mengatakan perasaannya. Jadi wajah
Cita yang memerah yang menjawab seluruh perasaan Ara. Ara tersenyum ketika
dilihatnya wajah Cita yang memerah mendengar pernyataannya. Ia memeluk gadis
itu, bukan lagi karena akting atau apapun itu.
Cita merasa malu, seperti ada ribuan pasang mata yang
menatap mereka. Ia mencoba melepaskan pelukan Ara, tapi bukannya melepaskan
pelukannya Ara malah semakin mempererat pelukannya.
“Ara, aku malu. Lagian ini udah sore, aku harus pulang,”
pinta Cita, ia seperti hampir kehabisan nafas. Ara melepaskan pelukannya, lalu
menggenggam tangan Cita.
“Nanti dulu, tunggu sebentar lagi. Ara malu kalau harus
keluar dengan wajah babak belur kayak gini. Bisa jatuh martabatku,” kata Ara
memberi alasan. Sebenarnya dia hanya memberi alasan klise, ia hanya ingin
berdua dengan Cita lebih lama.
“Jadi masih punya malu. Ah, kenapa aku bisa jatuh cinta
sama aktor yang nggak punya keberanian ini,” ledek Cita sambil tertawa dan
membuat kedua lesung pipinya muncul.
“Siapa bilang aku nggak berani, kita buktikan sekarang.”
Ara menggandeng tangan Cita sampai ke lapangan basket dan
berdiri tepat di tengah-tengah anak-anak basket yang sedang beristirahat.
“Bos dari mana aja? Kita udah selesai nih latihannya,”
seru salah satu teman Ara, Boby. “Kenapa tuh muka? Babak belur gitu,” lanjutnya
setelah sadar wajah Ara yang diplester.
“Bentar deh, ada hubungan apa bos sama Cita? Kenapa pakai
gandengan tangan segala?” tanya Raka, sahabat Ara yang lain. Raka merasa
was-was, sebenarnya dia juga naksir Cita dari awal semester baru. Ia bahkan
menjadi orang yang paling bahagia ketika Ara mengatakan kalau Cita akan menjadi
asistennya. Ara nyengir mendengar
pertanyaan Raka.
“Haruskah aku menjelaskan semuanya dengan detail,” canda
Ara sambil tersenyum jahil memamerkan tangannya yang bergandengan dengan tangan
Cita.
“Bos curang, kenapa curi start duluan. Bos kan tahu kalau aku ngincer Cita udah lama,” seru
Raka. Cita yang mendengarnya jadi salah tingkah, sedangkan Ara langung memasang
wajah “awas loe nanti!” saat mendengarnya.
“Sekarang dia udah jadi milikku, awas kamu kalau deketin
dia!” ancam Ara, setelah itu Ara mengambil semua barang miliknya dan melangkah
pergi bersama Cita.
***
Ara benar-benar mengantarkan Cita sampai ke depan pintu
rumahnya. Ia agak sungkan ketika Cita mengajaknya masuk, apalagi ayah Cita
sedang di rumah. Ara sempat gugup ketika ayah Cita bertanya satu dua hal
padanya. Ara hendak berpamitan ketika didengarnya ibu Cita berteriak histeris
di halaman depan rumah. Cita, ayahnya dan Ara spontan berlari ke luar rumah.
“Bunda kenapa?” tanya Cita khawatir sambil memeluk
bundanya yang masih menangis histeris.
“Mobil itu,” kata bunda Cita sambil menunjuk ke arah
mobil Ara. Ara sempat bingung, apakah ada yang salah dengan mobilnya?
“Bunda tenang dulu, ada apa dengan Mobil itu?” kali ini
ayah Cita yang bertanya.
“Mobil itu. Mobil itu yang menabrak Risa, Mobil itu yang
sudah merenggut nyawa Risa!” seru bunda Cita. Cita terpaku mendengar perkataan
ibunya. Ia teringat dengan kejadian tiga tahun yang lalu. Ketika ia diajak oleh
kakak dan bundanya berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Bundanya yang
sedang membereskan plastik-plastik yang berisi barang belanja sedangkan kakaknya
sedang memanggil sebuah taxi yang berhenti di seberang jalan. Karena supir taxi
tidak menyahut, Risa memutuskan untuk menghampirinya. Tapi ketika sedang
menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Cita yang memperhatikan laju kendaraan itu menjerit pada Risa dengan maksud
memperingatkan kakaknya untuk menyingkir. Tapi karena laju kendaraan yang tidak
stabil, tabrakan pun tidak bisa dihindari. Tubuh Risa terpental jatuh hingga
beberapa meter. Darah mengucur deras dari kepala dan tubuhnya. Cita dan
bundanya berhamburan ke tubuh Risa yang terbaring di tengah jalan. Warga yang
tanggap merelakan mobilnya sebagai ambulance
dadakan. Tapi sebelum sampai di rumah sakit, Risa sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Sedangkan si penabrak berhasil lolos dari jeratan hukum karena membayar uang
jaminan.
Sejak saat itu keluarga Cita terasa sepi, karena
kehadiran Risa seperti penyejuk dalam keringnya gurun pasir. Risa adalah
pribadi yang ceria, seorang kakak yang bisa menjadi teman bagi Cita. Risa adalah
harapan seluruh keluarganya. Dia berhasil menamatkan program sarjananya hanya
dalam waktu tiga tahun, sebelum lulus pun dia sudah mendapat tawaran pekerjaan
di sebuah stasiun televisi terkemuka di Jakarta. Kepergiannya saat itu adalah
sehari sebelum dia dinobatkan sebagai mahasiswi dengan nilai terbaik di Universitasnya.
Ara seperti tersambar petir. Kenapa ibu Cita bisa
mengetahui kejadian tiga tahun lalu. Tidak satu orang pun tahu kejadian ketika
ia mencoba mobil hadiah kelulusannya saat SMP, bahkan keluarganya sekalipun. Ia
sudah mengubur kejadian saat tanpa sengaja menabrak seorang wanita yang sedang
menyeberang jalan. Bertahun-tahun ia merasa ketakutan dan bersalah atas
kejadian itu. Ia berusaha menebus dosanya.
“Jadi wanita yang menyeberang saat itu kakak mu?” tanya
Ara, ia berharap kalau Cita akan menjawab tidak.
Cita hanya menangis bersama ibunya, mengisyaratkan kalau
memang kakaknya yang menyeberang jalan waktu itu. Tubuh Ara terasa lemas,
otaknya terasa kosong. Ayah Cita memandang Ara garang. Ara sama sekali tidak
keberatan mendapatkan perlakuan seperti itu, karena semua ini memang salahnya.
Bagaimana pun juga dia tetap saja seorang pembunuh.
“Saya minta kamu keluar dari rumah saya!” bentak ayah
Cita. Tapi sedetik kemudian dia tersungkur di tanah. Cita menghambur ke
ayahnya, mencoba menyadarkannya. Karena ayahnya tidak kunjung sadar, dengan
bantuan Ara, Cita membawa ayahnya ke rumah sakit.
***
“Maaf, Ta. Ara minta maaf,” kata Ara. Cita hanya terdiam
sambil memeluk ibunya. Mereka sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter. Tidak
lama dari itu, dokter yang memeriksa ayah Cita keluar. Cita meminta ibunya
untuk menemani ayahnya, sedangkan dia dan Ara menemui dokter.
“Oom sudah menduga, ginjal ayah teman kamu sudah rusak.
Oom akan berusaha semaksimal mungkin, tapi jalan keluar yang paling baik adalah
pencakokan ginjal,” kata dokter Herman pada Ara.
“Oom tolong lakukan yang terbaik. Saya yang akan membayar
seluruh biayanya, biar nanti Ara yang bicara ke Papa,” kata Ara mantap, ia
ingin menebus semua kesalahannya.
“Bukan perkara uang yang Oom permasalahkan, tapi mencari
donor yang sesuai dengan ayah teman kamu ini yang susah. Kita tidak bisa
menunggu lebih lama lagi,” jelas dokter Herman lagi.
“Kalau begitu biar saya yang akan menjadi pendonornya,” jawab
Ara lantang. Cita terkejut mendengar perkataan Ara. Ia menatap Ara, bermaksud
meminta penjelasan dari perkataannya. Belum sempat Cita mendapat jawaban, Ara
sudah melaksanakan berbagai tes kecocokan ginjal. Setelah menunggu beberapa jam
hasil tes menunjukkan kalau ginjal Ara cocok dengan ginjal ayah Cita.
“Aku sudah menggambil satu yang berharga dari kamu, aku
nggak akan membiarkan kamu kehilangan lagi,” kata Ara setelah mereka meninggalkan
ruang laboratorium.
“Tapi ini ginjal, bagaimana dengan bermain basket? Kamu
nggak akan bisa bermain dengan satu ginjal,” debat Cita, ia seperti tidak
senang mendengar Ara akan menyumbangkan ginjal untuk ayahnya.
“Kamu nggak suka kalau Ara menyumbangkan satu ginjal
untuk ayah kamu?” tanya Ara. Ia sedih mendengar perkataan Cita. Sebesar apa
kebencian Cita padanya hingga menolak ginjalnya.
“Bukan, aku senang kamu mau menolong ayah. Tapi kamu
bilang, kamu nggak akan membiarkan aku kehilangan sesuatu yang berharga lagi.
Tapi kalau operasi itu gagal, aku nggak hanya kehilangan ayah, tapi juga kamu,”
kata Cita sambil menangis. Ara terkejut mendengar jawaban Cita. Ara mengira
Cita akan berkata bahwa ginjalnya tidak pantas untuk ayahnya. Ara memeluk Cita
yang menangis.
“Aku janji, aku akan baik-baik saja. Kami berdua akan
kembali seperti semula,” kata Ara.
***
Hari pencakokan ginjal pun tiba. Ara dan Ayah Cita sudah
bersiap memasuki ruang operasi. Di sana juga berkumpul keluarga Ara, mereka
sengaja datang untuk menemani Ara dan sekaligus ingin bertemu dengan Cita.
Mereka menyanjung kecantikan Cita, pantas saja Ara terpikat olehnya. Selain
cantik, sikap Cita yang manis dan pengetahuan Cita yang luas membuat kedua
orangtua Arah juga jatuh hati. Itu yang terjadi di keluarga Ara, tapi berbeda
dengan yang terjadi di keluarga Cita. Cita dianggap pengkhianat dan hampir
diusir dari rumah ketika bundanya tahu dia berpacaran dengan Ara, bahkan
setelah ia tahu kalau Ara yang menyebabkan kematian kakaknya. Tapi perlahan, sikap
dingin bundanya pada Ara sedikit demi sedikit mulai luntur. Sebelum masuk ke
ruang operasi, Ara menyelipkan sebuah surat di tangan Cita.
“Apa ini?” tanya Cita penasaran, ia hampir membaca surat
itu ketika Ara menggenggam tangannya dan melarangnya membacanya.
“Nanti. Setelah aku masuk ruang operasi baru kamu baca,”
kata Ara sambil tersenyum. Ketika suster akan membawanya ke ruang operasi, Ara
membelai pipi Cita.
“Memang apa isinya?” tanya Cita penasaran, Ara tersenyum
mendengar pertanyaan Cita. Ia menjawab pertanyaan itu sambil bercanda,
“Kalau kamu baca
surat itu, aku jamin kamu nggak akan pernah jatuh cinta lagi selain denganku.
Mana bisa kamu menolak pesona seorang Arjuna sepertiku,” kata Ara lalu tertawa.
Ia menarik Cita ke arahnya dan memeluk gadis itu.
“Tunggu aku,” bisik Ara lalu menyuruh suster segera
membawanya ke ruang operasi.
Lampu ruang operasi menyala. Semua orang menunggu hasil
operasi itu dengan khawatir di depan pintu ruang operasi. Ada yang
mondar-mandir, ada yang berdoa, ada yang saling menguatkan diri dengan
bersandar satu sama lain. Cita memandang surat yang diberikan Ara sebelum dia
memasuki ruang operasi. Seulas senyum tersungging di wajahnya ketika ia membaca
puisi dalam surat itu.
Demi kamu, akan ku ambil seluruh bara itu
Demi kamu, aku sanggup membalikkan waktu
Asal kamu, aku rela menukar kewarasanku
Asal kamu, tak jadi soal bila bumi kan berlalu
Bila bukan kamu, aku tak akan pernah merayu
Karena tanpa kamu, laut pun tak akan berwarna biru
***
Lampu ruang operasi berubah menjadi hijau, menandakan
kalau operasi sudah selesai dilaksanakan. Semua orang merapat ke arah pintu
ruang operasi, termasuk Cita. Di sana ia lah yang paling tegang. Dua orang yang
paling ia cintai sedang bertahan hidup di ruangan itu. Dokter Herman keluar dengan wajah letih, keringat
mengucur di keningnya. Semua orang tegang menunggu dokter Herman berkata. Raut
wajah dokter Herman yang tidak dapat diartikan membuat Cita merasa was-was,
apakah operasi itu berakhir dengan sukses atau tidak. Dokter Herman menghela nafas
dan memasang raut wajah yang sedih seperti menyesali sesuatu. Jantung Cita
berdegup lebih keras dibandingakan dengan biasanya, dengan tenaganya yang
tersisa dokter Herman berkata,
“Saya sudah berusaha semampu saya, tapi Tuhan yang
menentukan semuanya. Operasi pencakokan ginjal, berhasil dilakukan. Pendonor
dan pasien dalam keadaan baik,”
***
Beberapa bulan setelah itu . . .
Cita memandangi sebuah nisan, di sampingnya Ara
menggenggam tangannya. Cita tersenyum memandang Ara.
“Kak Risa, Cita dan Ara bawa bunga lili kesukaan kakak.
Kayaknya dia mau nyuap kakak tuh,” kata Cita pada pusaran kakaknya.
“Kamu seharusnya lulus seleksi Kak Risa sebelum jadi
pacarku. Ya nggak Kak?” kata Cita pada Ara, sedangkan Ara hanya tersenyum getir
dan berkata,
“Mungkin kalau aku berhati-hati waktu itu, Kak Risa akan
ada di sini dan mengetesku,”
“Yah, dan kamu pasti nggak akan lulus tes. Aku yakin
seratus persen,” goda Cita
“Tapi kalau bumi akan berlalu aja nggak jadi soal,
penilaian Kak Risa juga begitu,” lanjut Cita dan tersenyum. Ara tersenyum
mendengar ucapan Cita, walaupun itu sebuah ejekan tapi sudah cukup membuat Ara
kembali tertawa.
“Ya. Tapi menurutku Kak Risa akan setuju. Siapa yang bisa
menolak pesonaku,” kata Ara
menyombongkan dirinya lagi.
“Hish. Mulai lagi,” ledek Cita. “Kenapa aku bisa jatuh
cinta sama orang senarsis ini?” lanjut Cita sambil mencubit lengan Ara. Ara
tertawa lagi dan menggenggam tangan Cita, bermaksud mengajaknya pulang. Tapi
Cita masih enggan meninggalkan makam kakanya.
“Ayo pulang. sudah sore, nanti tante marah. Aku dengan
susah payah merebut hati calon mertuaku itu,” kata Ara, tapi Cita masih belum
beranjak dari tempatnya. Akhirnya Ara terpaksa menggendong Cita keluar makam.
“Kak Risa, kami pulang ya . . .” seru Cita sambil
tertawa.
THE END
Semarang, 19 Oktober 2011 /
0:20 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thanks for your comment =D