Without You ini adalah cerpen pertamaku, cerpen yang kubuat untuk lomba penulisan pertamaku. Cerpen ini kubuat untuk LMCR 2011, saat di mana aku menghadapi kehilangan terbesarku. Karya ini kubuat di ruang ICU Rumah Sakit Tugurejo Semarang, dengan media sesobek kertas dengan coretan tangan yang amburadul. Dan ketika karya ini selesai kubuat, dia, adik tersayangku, Almarhumah Lia meninggalkan kami sekeluarga. Dan secara kebetulan cerita ini juga bertema kehilangan. Aku sempat menyesal, apa mungkin dia pergi karena ending ceritaku yang sedih?
STOP! Kenapa aku malah curhat, hehheehe... semoga kalian menikmatinya, yah walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini. Karena itu, jangan lupa kritik dan sarannya ya... selamat menikmati ya...
Without You
Oleh
: Desy Ratna Christiyani
AKU
- TATA
Hujan
mulai turun membasahi taman tempatku berada sekarang. Aku memandangi Indra
dengan lembut. Berusaha menebak apa kata yang akan keluar dari mulutnya.
Tingkahnya yang santai dan acuh membuatku takut. Bukan takut karenanya, tapi
aku takut dengan apa yang akan disampaikannya. Waktu seolah berhenti berputar
ketika ia mulai membuka suara.
“Sory, Ta. Aku lebih mencintainya dari pada kamu.” Kata Indra tanpa
beban. Ia mngatakan maaf padaku. Tapi aku yakin kata itu hanya keluar dari
mulutnya, bukan hatinya.
Jantungku
seperti berhenti berdetak saat kata-kata itu keluar. Dadaku terasa sesak dan
sulit untukku mengambil nafas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa aku
kendalikan. Tubuhku lemas, aku terkulai lemah karena tidak mampu menopang semua
perasaanku saat ini.
Indra
berjalan menjauh dariku. Aku ingin mencegahnya pergi, tapi tubuhku tidak mau
merespon. Aku hanya bisa melihat punggunggnya menjauhiku. Dari kejauhan, dengan
samar aku bisa melihat siluet tubuh Indra yang memeluk seorang wanita. Aku tahu
kalau suatu saat nanti ini akan terjadi padaku. Tapi tetap saja hati ini terasa
hancur.
Aku
menangis histeris dan berteriak-teriak seperti orang gila. Aku sama sekali
tidak perduli dengan tatapan orang yang melewatiku. Aku ingin melepaskan semua
beban dan rasa sakit ini. Aku peluk lututku sambil menggigil kedinginan. Aku
tahu, tidak seharusnya aku menangisi Indra. Dia sama sekali tidak pantas
mendapat air mataku. Aku menjerit lebih keras lagi. Berusaha melupakan semua
memoriku bersama Indra.
Tiba-tiba
air hujan tidak lagi menetes di tubuhku. Aku medongak dan mendapati Reza
memayungiku. Aku heran, kenapa musuh bebuyutanku itu bisa berada disini. Ia
berdecak dan bergumam tidak jelas. Lalu ia mengulurkan tangan padaku. Ku tatap
matanya, aku kan harus waspada. Dia masih tetap musuhku.
“Hei!
Mau sampai kapan loe duduk disitu?.” Seru Reza.
Aku
raih tangannya. Ia memasangkan jaketnya padaku. Dia juga menghapus air mataku.
Reza menggeggam tanganku dan membawaku pergi dari tempat menyebalkan ini.
Aku
menundukkan kepala selama perjalanan. Aku malu memperlihatkan mataku yang
bengkak pada Reza. Selain itu, rasa maluku yang tadi hilang sudah kembali lagi.
Aku mulai risi pada orang-orang yang dari tadi mengamatiku. Aku tidak heran
kenapa dari tadi kami menjadi pusat perhatian. Selain karena aku yang kucel dan
seperti orang gila. Reza, orang yang menggandengku saat ini termasuk dalam
kategori laki-laki impian. Tentu saja karena tubuhnya yang tinggi berotot, wajahnya
yang tampan, kulitnya yang coklat karena terlalu sering bermain bola, juga
karena prestasi akademisnya yang oke. Mungkin kalau bukan karena sikapnya yang
kasar dan dia bukan senior di kampusku, aku juga akan menjadi pengagumnya sama
seperti Rea sahabatku yang sangat memujanya. Tiba-tiba Reza berhenti berjalan,
membuatku menabrak punggungnya yang bidang. Lalu ia berbalik memandangiku.
“Loe!
Kenapa nunduk terus? Mau cari uang recehan jatuh.” Seru Reza keras. Ajaib,
suara Reza tidak kalah dengan derasnya air hujan. Tidak heran kalau ia bisa menjadi
bos di kampus. Aku angkat kepalaku dengan malas.
“Apa?.”
Jawabku lemas.
“Gitu cara loe ngomong
sama bos loe. Inget, loe masih punya hutang sama gue tiga juta.” Kata Reza.
Tuh
kan, apa aku bilang. Mana mungkin dia bersikap lembut padaku. Ini kan sudah
kebiasaannya membentakku setiap waktu. Aku malas meladeni Reza sekarang. Toh
semua yang ia katakan benar. Reza memang bosku dan aku juga berhutng tiga juta
padanya. Karena tanpa sengaja aku menabrak mobil barunya. Dan untuk membayarnya
aku harus menjadi asisten pribadinya selama satu bulan.
“Mau
kemana?.” Katanya lembut ketika kami sampai di depan mobilnya. Aku sempat kaget
dengan nada suaranya. Baru kali ini dia berkata lembut padaku. Ajaib sekali dia
hari ini, apa mungkin dia salah minum obat ya?
“Gue
mau pulang.” Jawabku jujur. Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, ia sudah
mulai menjalankan mobilnya. Memang dia tahu alamat rumahku?. Tanya ku bingung
dalam hati. Tapi tidak ada lima menit, aku sudah berada di depan rumah. Aku
menatapnya heran, mencoba meminta penjelasan padanya. Tapi dia malah membuang
mukanya dan menyuruhku masuk ke rumah.
Tiba-tiba
Ibuku keluar dari balik pintu. Dengan raut mukak marah Ibu memandangiku dari
atas sampai bawah. Nyaliku sudah mengecil saat ibuku menuangkan kemarahannya.
“Dasar
anak nggak berguna! Apa yang kamu lakukan di luar sana, heh! Aku sudah bekerja
keras untuk menghidupi mu. Kamu malah keluyuran nggak jelas seperti ayah mu.”
Serunya lantang. Yah, aku memang sudah terbiasa dimarahi olehnya. Aku tahu Ibu
tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya stres menghadapi kelakuan ayahku yang
seenaknya sendiri.
“Maaf,
Bu. Aku nggak akan mengulanginya lagi.” Kataku takut. Aku sama sekali tidak
berdaya menghadapi kemarahannya.
“Pergi
sana! Keluar dari rumahku. Aku nggak mau melihat muka mu lagi!.” Kata Ibu
keras. Lalu ia melempar tas kearahku. Hal ini sering terjadi padaku. Aku sudah
biasa terusir dan kembali lagi besok. Setidaknya seminggu dua kali aku
melakukan rutinitas ini. Tapi aku sempat berharap kalau hal ini tidak terjadi
sekarang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Karena
aku takut penyakit darah tinggi Ibuku kambuh. Aku bergegas memungut tas dan
pergi dari rumah. Karena hal ini sering terjadi, aku tahu harus pergi kemana.
Tubuhku mulai menggigil. Seharusnnya tadi aku berganti baju dulu. Aku melihat
mobil Reza dari kejauhan. Ternyata dia melihat semua kejadian yang aku alami.
Ia menyuruhku untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Gue
nggak nyangka nyokap loe sampai segitunya.” Serunya heran. Mungkin ini pertama
kalinya dia melihat seorang anak diusir oleh ibunya sendiri.
“Nggak.
Nyokap gue baik kok. Gue rela melakukan apapun yang dia mau. Tapi selama ini
gue cuma buat dia susah. Makanya loe jangan bentak-bentak gue, gue udah kenyang
sama yang begituan di rumah.” Candaku. Aku memang rela melakukan apapun untuk
Ibuku.
“Makanya
loe jangan nyebelin. Loe mau kemana?.” Balasnya jutek. Tapi aku bisa melihat
senyumnya.
“Anterin
gue ke rumah Rea ya, Pak Supir.” Candaku lagi. Hahaha, dia hanya bisa tersenyum
padaku.
Tidak
butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rea. Rumah Rea hanya berjarak beberapa
blok dari rumahku. Aku sudah hampir turun, ketika aku melihat motor Indra
berhenti di depan rumah Rea. Reza menarikku masuk ke dalam mobilnya. Aku
mematung ketika Indra mencium Rea. Jadi wanita yang aku lihat tadi adalah
sahabatku sendiri. Hatiku hancur lebur. Aku dikhianati oleh sahabatku sendiri.
Air mataku mengalir lagi. Aku memandang Reza, memintanya untuk segera membawaku
pergi dari sini. Dan tiba-tiba darah keluar dari hidungku dan kegelapan mulai
menguasaiku.
***
Aku
mengerjapkan mataku perlahan. Kepalaku terasa pening dan berat. Ku rasakan
selang infus di tanganku. Aku benci rumah sakit. Aku melihat Reza berdiri di
sampingku, raut wajahnya menggambarkan kalau ia sangat khawatir. Seorang dokter
menghampiri kami. Ia terlihat tegang melihat catatan kesehatanku. Aku penasaran
apa yang sebenarnya terjadi. Seumur hidupku, aku tidak pernah sakit yang serius
atau bahkan pingsan seperti ini.
“Dokter,
sebenarnya saya sakit apa?.” Tanyaku. Ada rasa takut di hatiku.
“Saya
belum tahu pasti. Kamu harus melakukan beberapa pemeriksaan.” Kata dokter
padaku.
“Kalau
begitu lakukan pemeriksaan lengkap sekarang, biar saya yang menanggung semua
biayanya.” Kata Reza di sampingku, sepertinya dia lebih penasaran dari pada
aku.
Ternyata
pemeriksaan itu tidak terlalu memusingkan seperti perkiraanku. Dalam dua jam
aku bisa melihat hasil laboratoriumnya. Aku hanya harus merelakan darahku
diambil dengan jarum yang mengerikan itu. Reza menemaniku menunggu hasil
testnya. Setelah menunggu lumayan lama, dokter memanggil kami ke ruangannya.
Reza membantuku berjalan, ia dengan senang hati membawakan kantung infusku.
“Apa
hasilnya, Dok? Tata sehat kan?.” Tanya Reza ketika kami sampai di ruangan
dokter.
“Maaf,
sepertinya tidak. Menurut hasil laboratorium, Tata mengidap kangker sumsum
tulang belakang stadium akhir.” Kata dokter itu. Aku melihat raut wajahnya,
bukan wajah seseorang yang sedang berbohong atau bercanda. Aku melihat Reza,
dia juga sama kagetnya denganku.
“Kangker
sumsum tulang belakang stadium akhir?.” Kataku memastikan. Mungkin saja aku
salah mendengar kan.
“Benar.”
Jawab dokter itu mantap. Tidak bisakah dia berbohong sedikit, dia sama sekali
tidak memikirkan perasaanku. Reza memandangiku dengan wajah khawatir. Aku
mencoba mengolah semua kejadian hari ini. Di putuskan oleh pacar, di usir oleh
Ibuku, dan di khianati oleh sahabatku sendiri. Sekarang harus bertambah dengan
penyakit kangker. Apa yang sudah ku lakukan sampai tuhan menghukumku seperti
ini. Aku mencoba menerima kenyataan, berusaha tegar agar tidak menangis.
“Berapa
sisa umurku?.” Tanyaku pada dokter. Ku rasakan Reza menegang di sampingku.
“TATA!.”
Bentak Reza. Sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaanku.
“Apa?
Bukannya ini pertanyaan yang lumrah. Gue mesti tahu berapa sisa umur gue.”
Kataku berusaha tegar, padahal dalam hati aku ingin bersandar dan menangis di
bahunya.
“Saya
bukan tuhan yang berhak memfonis umur manusia. Tapi kalau melihat keadaan mu
saat ini, saya hanya bisa memperkirakan sekitar tiga atau empat bulan lagi.”
Reza
terlihat tidak menyukai jawaban dokter. Ia menyeretku keluar. Membawaku ke
taman rumah sakit yang gelap. Tiba-tiba ia memelukku erat.
“Nangis
aja kalau loe mau nangis. Mumpung di sini nggak ada orang.” Katanya. Aku
menangis di pelukannya. Menumpahkan semua yang terjadi hari ini di bahunya. Aku
merasa putus asa, tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Jangan
beri tahu siapapun tentang penyakit gue. Termasuk ke nyokap gue.” Pintaku. Reza
sempat terkejutdan menolak permintaanku. Tapi akhirnya setelah aku memohon ia menyetujuinya.
Setelah
itu hari-hariku berubah. Aku masih tetap keluar dari rumah, sama seperti
sebelumnya. Yang berbeda adalah setiap aku pulang kuliah, Reza selalu
menemaniku menjalani perwatan kangker. Dia juga yang menebus obat-obat mahal
itu. Ibuku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku juga mengambil keputusan
untuk tidak membenci Rea. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaikku.
Seperti saat ini, aku
dan Reza akan pergi ke rumah sakit. Namun mataku menangkap sesatu. Aku melihat
Rea menangis di bawah pohon. Aku meminta Reza menungguku di mobilnya sebentar,
sementara aku menghampiri Rea.
“Ada apa, Re?.” Tanyaku
perhatian. Rea terkejut melihatku.
“Ngapain loe di sini?.”
Balasnya sinis. Aku mencoba bersabar, seharusnya yang marah kan aku.
“Gue penasaran aja,
kenapa loe nangis. Jangan bilang kalau itu karena Indra.” Kataku asal. Aku
sempat khawatir melihat ekspresi wajah Rea yang seperti ingin memakanku. Tapi
yang terjadi adalah sebaliknya. Ia malah memelukku sambil menangis.
“Maafin gue, Ta.”
Serunya sambil menangis. Aku tidak mampu menahan air mata lagi. Alhasil aku
juga ikut menangis.
“Gue maafin loe udah lama,
Re. Loe itu sahabat terbaik gue. sekarang loe cerita, kenapa loe nangis di
sini?.” Selidikku. Rea terlihat takut menceritakannya. Tapi setelah aku
mendesaknya, akhirnya Rea mau menceritakan semuanya.
“Gue hamil, Ta. Gue
hamil, tapi Indra nggak mau tanggung jawab.” Jelasnya sambil menangis. Aku
seperti tersambar petir di siang hari. Tidak ku sangka kalau Rea menjadi korban
yang lebih parah dari pada aku. Tanpa berfikir panjang aku menarik Rea untuk
menemui Indra. Sangat tidak adil kalau Rea hanya menanggungnya sendiri. Aku dan
Rea menuju tempat Indra biasa menghabiskan waktu istirahat siang. Aku
melihatnya duduk dengan santai dan menggoda mahasiswi baru yang lewat.
“Loe ikut gue.” Perintahku
padanya. Indra hanya tersenyum acuh. Emosiku yang tinggi dan akal sehatku yang
mulai tidak bekerja secara normal membuatku menarik Indra ke lorong kampus yang
sepi. Rea yang mengikuti di belakang hanya diam seribu bahasa.
“Loe mesti tanggung
jawab. Rea hamil, Dra.” Kataku lembut. Aku tahu kalau menghadapi Indra dengan
amarah, tidak akan mempan.
“Tanggung jawab?
Mungkin aja itu bukan anak gue. Loe kan nggak tahu apa kelakuan dia yang
sebenarnya.” Jawabnya. Amarahku memuncak lagi. Kutampar pipi kirinya dengan
keras.
“Harusnya gue lakuin
ini dari dulu. Dan satu lagi.” Lalu aku menampar pipi kanannya.
“Ini buat loe yang udah
kurang ajar sama Rea.” Lanjutku lagi. Ku lihat raut wajahnya yang berubah merah
karena marah. Ia mengayunkan tangan untuk memukulku. Tapi Reza berhasil
mencekalnya. Wow, Reza selalu bersikap seperti supermanku akhir-akir ini.
“Cowok yang berani
mukul cewek itu, BANCI!.” Kata Reza. Lalu tanpa bisa aku sadari, mereka
menjelma sebagai Muhamad Ali dan Cris Jhon. Aku coba memisahkan mereka namun
karena tubuhku yang mungil, aku tidak bisa menyentuh mereka. Salah-salah malah
aku yang terkena tinju dari mereka.
“CUKUP!.” Teriakku
lantang. Mereka berdua berhenti seketika dan menoleh sesaat padaku. Tapi hal
itu hanya berlangsung beberapa detik saja, setelah itu mereka menuju ronde
kedua. Ku rasakan darah mengalir dari hidungku. Rea yang sadar dengan keadaanku
langsung berteriak. Seketika itu juga aku melihat Reza melepaskan cengkraman
tangannya dari Indra dan menghampiriku dengan wajah khawatir.
“Ta, loe nggak papa?
Loe pasti nggak minum obat.” Kata Reza khawatir. Aku menggelengkan kepala tanda
bahwa yang dikatakan Reza tidak benar. Aku selalu meminum obatku tepat waktu.
Tiba-tiba Indra
mengarahkan tongkat baseball padaku. Dan detik berikutnya aku melihat Reza
berada di depanku. Setelah itu aku melihat bercak darah di lantai, tapi bukan
darahku. Bukan karena mimisan yang sedang aku alami. Aku menepuk punggung Reza
pelan, tapi tubuh Reza limbung ke arahku. Dan aku melihat wajah Reza yang berumuran
darah.
***
“Reza mengalami kebutaan
permanen.” Kata dokter padaku setelah beberapa hari kami menginap di rumah
sakit. Aku memandang wajah Reza yang hampir seluruhnya tertutupi oleh perban.
Aku tidak bisa membaca raut wajahnya.
“Satu-satunya cara
adalah dengan donor kornea. Saya sudah mendaftarkan nak Reza ke bank kornea.
Jadi sabar saja menunggu pendonor yang cocok dengan kamu.” Lanjut dokter. Aku
hanya bisa diam seribu bahasa. Donor kornea pasti membutuhkan waktu yang lama.
Aku memandangi Reza lagi, dia masih saja tanpa ekspresi. Aku mendekati Reza,
menggenggam tangannya.
“Za, gue…” Kata-kataku
tercekat, keadaannya yang seperti ini kan karena aku. Aku merasa sangat
bersalah dengannya. Tangan Reza mulai meraba mencari wajahku. Tubuhku terasa
tersengat listrik 1000 volt ketika jemarinya menyentuh pipiku. Oh tuhan, apa
benar aku jatuh cinta pada Reza. Jantungku berdegup lebih cepat saat Reza mulai
berbicara.
“It’s Oke. No problem.
Gue nggak papa, Ta.” Kata Reza sambil tersenyum. Ah, rasanya aku mau pingsan
melihat senumannya itu. Tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah lagi. Untung saja
Reza tidak bisa melihatnya. Dan detik berikutnya, aku sudah dikuasai oleh
kegelapan.
Saat aku sadar dari
pingsan, ku lihat Reza duduk dengan kursi roda di sampingku. Aku melihat
keadaan sekitar. Rea dan Ibuku berdiri di samping dokter sambil menangis. Aku
heran, kenapa Ibuku mengetahui kalau aku ada di sini. Dokter menyuruh Reza dan
Rea pergi. Reza bersikeras ingin selalu ada di sampingku. Aku sangat senang
mendengarnya. Tapi belum sempat dokter memarahinya, Rea yang tanggap langsung
mendorong kursi roda Reza keluar dari kamarku. Sekarang hanya tersisa aku dan
Ibuku, dokter memulai pembicaraannya.
“Kangker mu sudah
menyebar. Kemo terapi dan obat tidak akan bisa menghambatnya lagi. satu-satunya
solusi adalah dengan cangkok sumsum tulang belakang. Aku sudah mengecek sumsum
tulang Ibu mu, dan hasilnya cocok. Sekarang kami hanya menunggu keadaan mu
stabil untuk dapat dioperasi.” Jelas dokter panjang lebar. Aku menghela nafas
panjang.
“Tapi sebelumnya saya
punya satu permintaan.” Kataku. Ibuku dan dokter terkejut mendengarnya. Namun
menit berikutnya mereka bisa mengerti apa yang aku rasakan.
“Yang pertama, katakan
pada Reza kalau aku akan berobat ke Swis dan akan kembali beberapa bulan lagi.
Yang kedua, jika nanti operasiku gagal. Aku ingin menyumbangkan korneaku pada
Reza, dan organ tubuhku yang masih berfungsi dengan baik kepada orang yang
membutuhkannya.” Pintaku. Ibu berkata kalau aku tidak boleh pesimis. Tapi aku
sudah menetapkan hati, aku tidak mau melihat orang menderita penyakit
sepertiku. Setidaknya aku bisa berguna untuk orang lain setelah aku meninggal.
Dan mereka menyetujuinya.
***
AKU
- REZA
“Za, besok gue
berangkat ke Swis.” Kata Tata padaku. Andai saja aku bisa melihat wajahnya saat
ini, tapi itu tidak mungkin. Ku rasakan air matanya menetes di tanganku. Ku
genggam tangannya. Seandainya aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi
untuk sekarang ini aku tidak pantas. Dengan keadaanku yang tidak dapat melihat
indah wajahnya, dan dia yang sedang berjuang dengan penyakitnya membuatku
mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku. Tiba-tiba kurasakan Tata
memelukku sambil menangis. Aku tidak berani membalas pelukkannya.
“Ada apa, Ta? Loe
kenapa?.” Tanyaku.
“Tunggu gue ya. Nggak
lama kok, jadi loe tunggu gue.” Jawab Tata dambil mempererat pelukkannya.
Karena sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi, akhirnya aku membalas
pelukkannya.
“Gue cinta sama loe,
Za. Gue cinta sama loe. Jadi tunggu gue.” Kata Tata tiba-tiba. Aku terkejut
mendengar perkataannya itu. Aku memeluknya rebih erat lagi. Darahku berdesir,
jantungku begejola riang. Dia memiliki perasaan yang sama denganku.
“Gue juga, Ta. Gue
cinta sama loe sejak pertama kali kita ketemu.” Jawabku senang. Kalau saja aku
bisa melihat, aku pastikan kalau dia pasti tersenyum sekarang. Membayangkan
senyumnya yang seperti malaikat membuatku seperti tersengat listrik. Dan waktu
berikutnya, aku dan Tata hanya diam seribu bahasa. Hanyut dengan perasaan cinta
kita, dan ku rasakan ia mulai tertidur di pelukanku.
***
Hari ini tepat satu
bulan Tata pergi ke Swis. Aku duduk di bawah pohon cemara di kebun rumahku. Aku
masih belum mendapatkan pendonor untuk korneaku. Jadi sekarang aku harus
berusaha menghafal lingkungan sekitarku dan belajar menggunakan huruf broiles. Ku
dengar Indra sudah mendekam di penjara setelah beberapa minggu menjadi buronan.
Ringtone handphoneku berbunyi, dan suara dokter Herman langsung menyambutku.
“Saya ada berita bagus
untuk kamu. Kamu sudah dapat pendonor yang cocok.”
Aku melompat kegirangan.
Bersorak riang seperti orang gila. Aku ingin memberitahu hal paling membahagiakan
ini pada pacarku tersayang, Tata. Aku hubungi nomor handphonenya di Swis, namun
tidak ada jawaban. Yah, mungkin dia masih menjalani perawata pasca operasi. Aku
menunggu hari operasiku dengan gembira. Aku sudah mengirimkan email pada Tata
kapan perbanku akan dibuka. Aku ingin orang pertama yang aku lihat adalah dia.
***
Hari ini adalah hari
perban mataku di buka. Orang tuaku yang tinggal di London memberikan kejutan
dengan datang ke Indonesia untuk melihat momen ini. Rea, sahabat Tata juga ada
disini. Aku kecewa mendengar kabar kalau Tata tidak bisa datang kemari. Tapi
aku maklum, dia harus sehat agar kami bisa selalu bersama. Nanti aku saja yang
memberinya kejutan. Dokter mulai melepas perban di mataku. Ia menyuruhku
mengerjapkan mata perlahan. Setelah itu aku dapat melihat cahaya pertama di
hidupku.
Ayah dan Bundaku
tersenyum senang di sampingku. Ku lihat Rea juga tertawa senang, namun menit
berikutnya ia menangis. Aku bingung melihat reaksinya, ini membuatku penasaran.
“Gue mau nelpon Tata.”
Kataku senang. Dia harus mendengar dari sana betapa bahagianya aku sekarang.
“Gue mau ngasih ini,
Tata nitip ini sebelum berangkat. Dia tahu kalau hari ini akan tiba.” Kata Rea sambil
menangis. Aku membuka surat itu.
“Untuk
Rezaku. Maaf aku tidak bisa berada di samping mu saat ini. tapi aku akan selalu
berada di sisi mu. Selalu kamu lihat. Karena dunia yang kamu lihat sama dengan
yang aku lihat. Cintaku untukmu selalu.”
Aku tersenyum membaca
surat Tata. Aku tahu pasti dia sedang bersembunyi untuk memberi kejutan padaku.
“Mana dia?.” Tanyaku
penasaran.
“Tata udah meninggal,
Za. Operasinya gagal. Dia yang jadi pendonor buat loe.” Kata Rea. Ku rasakan
seluruh tubuhku mati rasa. Dan detik berikutnya aku sudah menangis histeris.
***
Aku bersimpuh di atas
pusaran Tata. Aku membawakan dia seikat bunga lili kesukaannya. Aku tersenyum
dan meninggalkan sepucuk surat untuknya.
“Untuk
Tataku. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan. Tanpa cintamu aku tidak akan
mampu bertahan. Aku akan hidup dan akan terus mencintaimu. Membantu melihat
dunia lewat mata yang kamu berikan. Walau tanpa kamu ada di sampingku.”
Semarang, 17 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thanks for your comment =D