Senin, 13 Januari 2014

Pluralisme? Jauuuuuhhhh....

Sepertinya, pluralisme di tanah Ibu Pertiwi ini sepertinya masih sangat jauh. Saya tidak akan gembar-gembor soal toleransi beragama, keselarasan antar suku, ras, atau pun golongan. Saya tidak punya kapasitas untuk berbicara tentang itu. Ilmu saya pun bisa dibilang cetek. Walaupun seharusnya, untuk memahami pluralisme kita tidak membutuhkan ilmu apa pun. Cukup hati. Ya, hanya satu itu saja. Oleh karena itu, saya akan berbicara sesuai kapasitas saya. Melalui sastra, berhubung saya adalah mahasiswa sastra.

Judul postingan ini adalah, "Pluralisme? Jauuuuuhhhh..." karena memang pada kenyataanya begitu. Saya akan mencontohkan di bidang sastra. Seperti yang saya pelajari di mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia, sastra selalu dikotak-kotakan. Ada model 'Periodesasi Sastra'-lah, ada macam 'Manikebu VS Lekra'-lah, ada 'Sastra POP' yang dianggap lebih rendah daripada 'Sastra Serius'-lah, dan entah apa lagi.

Ada juga kontroversi tentang Sastra Melayu Tionghoa yang dianggap bukan Pra-Sastra Indonesia karena kebanyakan sastrawan SMT adalah orang-orang Tionghoa (Cina) yang pastilah disangkut pautkan dengan gerakan G30S/PKI. Padahal seperti yang telah kita ketahui, kesusastraan ini muncul ketika kolonial masih menguasai bumi kita tercinta. Belum lagi Multatuli tidak dianggap menjadi salah satu sastrawan hebat pada masanya, hanya karena dia berdarah Benua Biru. Padahal dia adalah penulis yang selalu menggembar-gemborkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Belum lagi soal Manikebu VS Lekra. Hingga sekarang, karya-karya Lekra tak akan pernah bisa diterima seratus persen hanya karena dicap sebagai kacung PKI.

Tak heran kan kalau saya mengatakan pluralisme di negeri tercinta ini akan jauh dari pelupuk mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your comment =D